Sedalam.dalamnya.

October 16th, 2006 by xxxta

Sedalam-dalamnya, coba, kau timbun hatimu yang luka, lalu kau kubur dalam-dalam.

Sebanyak-banyaknya pasir yang kau usung untuk membusung hatimu yang perih, lama-lama butiran pasir itu menggesek sayatan-sayatan hatimu yang limbung, dan masuk ke tiap-tiap nada yang masih berdetak dalam sisa-sisa, pecahan-pecahan, serpihan-serpihan hatimu yang masih ada.

Seindah-indahnya cuaca yang menutup harimu. Hatimu yang kelabu akan tetap begitu, matahari tak akan dapat menembus ke dalam rongga dadamu, angin dingin tak akan berdesir menurunkan suhu tubuhmu, bintang-bintang tak akan bersinar, sampai ke dalam tulang rusukmu. Yang ada cuma hatimu, terus, membusuk. Semanis-manisnya senyum yang kau tarik, dan seputih-putihnya gigi yang kau unjuk, air mata tak akan berhenti mengalir, dan darah tak akan berhenti mengucur, dari hatimu yang tercabik sabit-sabit penjagal.

Karena setiap kali berusaha kau sembunyikan, justru luka itu akan terus berakar. Setiap kali kau coba lari, retakan-retakan yang ada semakin nyata. Pada hati yang luka, yang ada hanya hampa, dan ruang kosong itu tak akan pernah dapat kau tutupi, walaupun seribu benda padat ada di atasnya. Roh yang melompong akan terus nongkrong di dalamnya, seperti menyimpan gas di dalam perut, dan sulit mengeluarkannya. Ia beranak disana.

Walau kau berusaha sekuat tenaga, agar tak ada yang melihat. Tapi hal itu, zat itu akan selalu disana, bermati raga bersama segala kekuatan yang kau kerahkan untuk menyamarkannya. Yang ada hanyalah–kenyataan yang tertunda, dan kau pun akan makin larut, larut dan carut marut dalam kesesakkan yang membunuhmu perlahan tanpa bimbang. Ia selalu ada, jika masih kau simpan. Ia, selalu ada jika tetap kau pendam. Ia akan selalu jadi racun, jadi bisa, jadi bius yang tak terbiaskan. Jadi gumpalan-gumpalan sel darah mati, yang menginfusmu selalu, dan merenggut nyawamu dalam sekejap mata.

Ia masih selalu disana jika kau selalu coba lari darinya. Ia akan selalu di belakangmu jika masih kau tengok tidak ke depan. Ia akan selalu disitu, jika kau masih berpikir, “bagaimana caranya aku menghindar?”. Karena tidak ada,– ketiadaan yang dapat kau kendalikan.

Karena nihilnya,

kesendirian yang dapat kau gusur.

Karena lari dari permasalahan, dan membanting tulangmu dalam kegiatan, hanya akan membuatmu makin gusar, dan nantinya makin penuh beban, ketika kau tersadar kau tidak pernah tertidur untuk bermimpi lagi. Karena tidak ada, ketiadaan yang dapat kau gantikan. Kesepian yang kau bicarakan. Kedengkian yang dapat kau balaskan. Kekosongan yang kau timbun dengan kedongkolan.

Retakan itu hanya dapat kau sembuhkan dengan regenerasi. Tidak membiarkannya di dalam lautan dan mengendap disana, melainkan kau angkat jantungmu ke atas awan, dan biarkan ia menghirup udara lepas. Kesepian itu hanya dapat kau kalahkan dengan memberikannya ketenangan batin, bukan hingar bingar cari minuman dan cairan pengusung lara. Kekosongan waktu, bukan dilawan, tapi nikmati.

Biarkan hatimu yang lara merenda benangnya perlahan-lahan. Berikan napas di sela-sela kegiatanmu yang tak terkira. Jangan kau ikat hatimu terlalu erat, jangan kau cekik luka yang sudah ada. Rangkul simpul-simpul kusut, hibur dan dengarkan debur-debur di atas pasir laut yang tadinya menimbunnya. Bersihkan tiap sela-sela dengan seksama, walau cacat asalnya, bentuknya masih ada, sinarnya masih terlihat. Tapi jangan sekali-kali kau coba sembunyikan hatimu yang rentan. Karena sewaktu-waktu, saat malam menemukan zona kegelapanmu, kau hanya akan tenggelam ke dalam pasir hisap di persembunyian hatimu yang menjadi kejam di balik sel-sel tahanan.

Karena itu …. jangan kau tumpuk-tumpuk keluh kesahmu.

Kau sebul-sebul kesedihanmu, dan kotori paru-parumu dengan polusi peluh. Kuncinya, relakan kepergian zat adiktif itu, hembuskan, dan biarkan hatimu terdampar bebas di atmosfir baru. Lepaskan, dan kau akan diberi.

for my gurls: rona, finka.

keep ur precious self together gurls

Sunday, 8th October 2006 10:38 PM

puisi mati kemerdekaan

August 30th, 2006 by xxxta

Menjamah waktu yang berjalan tertatih

Mendamba kepuasan di tengah keputusasaan

Merengkuh noda di dentaman beban

Melanglang kabel pikiran yang kini kusut

Pergi kemana semua kebaikan

Raib kemana pengharapan

Laksana bintang di laut laksamana

Yang kini jatuh dan meledak di pantai

Hati gontai tak ada obatnya

Hari resah tak ada yang mengesah

Haruskah hari berganti pagi dan menyambut siang

Haruskah semua berjalan bagai ledakan derai-derai atom

Kata-kata hilang

Mata-mata belang

Menampar-nampar hati yang makin sempit terbentang

Menghancur-hancurkan napas yang makin berat

Mengenggam tubuh dan melumat jiwanya

Bagaikan raksasa penghancur kehidupan

Konon bumi itu indah

Hanya suatu saat akan berpijar hancur

Konon hidup manusia itu sempurna

Hanya suatu saat kematian akan datang lebih cepat daripada jenasah

Ya, berulang-ulang kali bahkan

Kita ini mati suri terus-terusan

Merdeka!17th Agust

PS: Ada apa dengan hari-hari besar Indonesia?

Gak hari pahlawan gak tujuhbelasan, selalu merupakan saat-saat terburuk buat kalbu.

am i wry?

August 30th, 2006 by xxxta

Ada yang aneh dengan hidup ini. Kita ingin kembali di saat2 yang indah, dan ingin membuang saat2 buruk. Kita menyia-nyiakan seseorang di satu waktu, tapi ketika mengingat keindahannya, kita merindukannya dan ingin mengucap beribu maaf baginya. Tapi ketika kita sadar.. selalu dan selalu.. kita terlambat.

Kenapa saat yang berlalu cepat justru kita hargai dibanding proses panjang saat kita terpuruk? Mengapa keindahan justru tak datang saat kita semua merasa kesulitan. Saat hari merajut malam dan kita mulai merajuk kenangan dan fatamorgana…

Mengapa pikiran budi ini tak bisa berpikir dua? Tidak seperti computer yang melakukan dua tugas sekaligus pada satu waktu.. Kenapa manusia tidak dapat berpikir panjang? Kenapa otak kita begitu mie instant? Sekali sedu, langsung jadi satu keputusan. Yang kadang itu kita sesali. Yang kadang kita tangisi. Dan kita pun sadar bahwa kita lamban, dalam menerima impuls kehangatan. Bahwa dalam setiap hal buruk yang kita ingat, terusik oleh manisnya impian dan harapan akan kebaikan. Bahwa dalam setiap kemarahan yang kita hirup, ada pelajaran yang kita hidupi.

Jangan ambil keputusan. Terlalu cepat, kawan. Pikiran kita ini begitu minimal sehingga tak kuat menampung begitu banyak kilobyte,,, Mungkin kita pemikir yang hebat, mungkin kita penuh kebijakan.. tapi sudahkan hati ambil bagian, pantaskah emosi di masukkan , hingga kita begitu reaktif atas semua impuls di kala kenangan buruk itu terulang.

Hati-hati pada setan.. Ia selalu ada dalam tiap kata yang hendak terucap dan diucap. Akan  menjelekkan seseorang, atau menyakiti hati orang. Dan sedihnya itu selalu kita lakukan berulang-ulang bahkan.

Saya harus apa untuk membuat dunia ini terbalik? Bolehkah saya lihat masa depan dulu baru mengambil keputusan? Bolehkah masa lalu tidak perlu menyisip dalam saraf-saraf ingatan?

Bolehkah  setelah mengetok palu seorang hakim membatalkan pagu nya?

Terlalu banyak pertanyaan hari ini, kawan.

Janganlah mengingat apa yang sudah berbau basi.

Am I doing right?

17th August 2006

Hidup ini Terlalu Santai

June 16th, 2006 by xxxta

Pernah sakit digigit anjing? Pernah jatuh dari bus kota? Pernah kecolongan di kereta api? Rasanya semua penderitaan yang pernah kita rasakan, yang terburuk sekalipun, adalah tiada tandingnya terhadap apa yang terjadi akhir-akhir ini, di Indonesia. Saya baru saja pulang dari sebuah pelarian singkat ke negri seberang, Tibet dan Cina. Pelarian menuju inspirasi spiritual, di dalam hari-hari libur UI yang hanya sekejap saja itu. Tenang dan merasa seimbang di setiap pijakan di negri lain, tetapi begitu kembali saya tidak kuasa menahan semua berita yang ada di media.

Ba’asyir dilepaskan. Saya kira tidak ada kondisi yang lebih buruk. Saya tahu berita ini dari Coverage CNN yang diputar tiga kali sehari di setiap TV di hotel-hotel di Tibet dan Cina. Ternyata ketika sampailah saya di depan TV ruang keluarga di rumah, kondisi yang mengerikan, yang hampir tidak terbayangkan, bisa juga terjadi. Dari hal-hal kecil seperti Hughes yang melepaskan sorbannya, Ivan Gunawan sekarang berkumis, sampai ada orang yang mati terpanggang 700C di dalam ruangan yang seharusnya memberi mereka pengharapan, dan tentu saja, pencemaran banjir lumpur di Sidoarjo akibat PT Lapindo. Hitung-hitung lagi berapa lama saya meninggalkan Indonesia,, mungkin paling lama 12 hari. Benarkah? Rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Semakin sedih dan semakin suram rasanya.

Enam tahun yang lalu, ayah saya berkunjung ke Cina. Dulu, di Beijing semua orang masih memakai sepeda kemana-mana. Rumah-rumah mereka pun berdempet-dempat tidak keruan karena kebanyakan manusia. Belum ada pembangunan apa-apa, dan boro-boro ada jalan raya di kota-kota kecil Tibet. Enam tahun kemudian, entah apa namanya. Keajaiban? Atau kebijaksanaan? Pembangunan di seluruh negri Chung Kuo itu tiada duanya. Intensifikasi infrastruktur bagaikan muncul begitu saja dari permukaan bumi. Semua orang sekarang memakai sepeda listrik, mobil built-up ramah lingkungan dimana-mana. Bahkan di kota paling terpencil di Tibet pun dibangun berderet-deret apartmen. Sungguh rapi dan teratur. Semuanya hanya dalam enam tahun.

Jadi sebenarnya, harapan untuk pembangunan itu ada. Kita berpikir kemajuan untuk Indonesia akan tercapai 10 tahun, 20 tahun lagi? Hah, kuno! Sebenarnya bisa saja kita bergerak cepat ke depan dan bukan ke belakang seperti yang terjadi sekarang ini. Hanya saja, tidak ada yang berani memulai. Tidak ada yang mengerti, harus mulai darimana. Yah tentu saja, kadang-kadang kalau kamar kita berantakan pun, kita cenderung tidur, karena pusing tidak tahu harus menatanya bagaimana. Kalau saya, begitu bangun tidur, biasanya saya mulai dari membersihkannya dulu. Bersihkan semua kekotoran yang ada dan bekerja keras untuk mencari sumber kekotoran itu sehingga tidak akan tercemar di spot yang sama. Huh, anak muda, hidup ini terlalu santai di Indonesia. Terlalu banyak berdiam diri. Bagaimana menurutmu? Apa sih yang harus benar-benar kita lakukan?

16th June 2006

Something really painful from http://www.smartraveller.gov.au

June 16th, 2006 by xxxta

Something really painful from http://www.smartraveller.gov.au

You can find more information about this threat in our General Advice to Australian Travellers.

We advise you to reconsider your need to travel to Indonesia, including Bali, due to the very high threat of terrorist attack. Ask yourself whether, given your own personal circumstances, you’re comfortable travelling to Indonesia including Bali, knowing that there is a very high threat from terrorism and you may be caught up in a terrorist attack. Ask yourself whether travel could be deferred or an alternative destination chosen. If, having considered these issues, you do decide to travel to Indonesia, including Bali, you should exercise extreme caution. If you are already in Indonesia, including Bali, and concerned for your safety, consider departing.

We continue to receive a stream of reporting indicating that terrorists are in the advanced stages of planning attacks against Western interests in Indonesia against a range of targets, including places frequented by foreigners. These reports include information about potentially heightened risk of attack on particular dates. Recent reports suggest Sunday 2 April 2006 could be a potential date for attack but we emphasise that attacks could occur at any time, anywhere in Indonesia. In December 2005, Indonesian authorities warned publicly that terrorists in Indonesia may be planning to kidnap foreigners.

Attacks against Westerners in Bali and Jakarta indicate that these areas are a priority target for terrorists in Indonesia. Suicide attacks against locations frequented by foreigners in Bali and Jakarta such as the 1 October 2005 and 12 October 2002 Bali bombings and bomb attack outside the Australian Embassy in Jakarta in September 2004 killed and injured many people. Westerners were also targeted in the bombing of a five-star hotel in central Jakarta in August 2003. Any popular tourist area or location known to be frequented by Westerners, including resort areas in Bali, is a potential target. We cannot rule out the possibility of another attack targeting Westerners, including Australians, anywhere in Indonesia.

In planning your activities, consider the kind of places known to be terrorist targets. Tourist areas and attractions throughout Indonesia, and tourists travelling to or from these places, including those in tour groups or tour buses, could also be targeted. In November 2005, Indonesian authorities stepped up security in the Tangkuban Perahu tourist park in West Java. Other possible terrorist targets in Indonesia include international hotels, clubs, sporting clubs and sporting venues, restaurants (including international fast food outlets), bars, cinemas, theatres, embassies, international schools, expatriate housing compounds, office buildings, churches and other places of worship, shopping centres, outdoor recreation events or identifiably western businesses and interests. The central business and embassy districts of Jakarta, other metropolitan and tourist centres and premises and symbols associated with the Indonesian Government are also possible targets. Western fast food outlets have been attacked by terrorists in the past and further attacks cannot be ruled out.

Airlines and transport hubs, including airports, may also be terrorist targets. The United States Transportation Security Administration has declared that Denpasar airport in Bali does not comply with International Civil Aviation Organisation (ICAO) standards on international aviation security. However, United States airlines are not precluded from flying to Bali. Qantas and Australian Airlines services continue to operate normally out of Bali and have additional security measures in place to meet ICAO security standards. If you are concerned about airline security you should contact your airline directly to ascertain what security measures it has in place.

An extremist website posting discussed possible terrorist tactics including terrorist attacks against foreigners in the Kuningan area of Jakarta, which includes buildings such as the Australian Embassy, the International Trade Centre, the Ambassador Mall, Menara, Rajawali, Menara Danamon and the JW Marriott Hotel. Pedestrians on footbridges and their approaches, including possibly the bridge across Jalan Rasuna Said near the Australian Embassy.

The Australian Embassy has advised its staff and their families to be particularly careful in how they travel or walk to and from the Embassy, including when using the Jalan Rasuna Said footbridge near the Embassy.

The extremist website also discussed possible terrorist attacks against foreigners at a range of other locations across Jakarta, including those in slow or stationary traffic such as at entrances to toll roads and carparks, at entertainment venues, shopping centres, sports venues, hotels, exhibition centres and/or the zoo.

Due to security concerns, security at the Australian Embassy in Jakarta is at a high level.

Menyadari Cinta

April 6th, 2006 by xxxta

Sanchai_and_daoSaya tidak mudah jatuh cinta. Tapi saya mudah tahu, ketika saya sedang jatuh cinta. Ada bedanya, kan? Cinta itu proses. Panjang. Melelahkan, tapi sungguh, tidak pernah membosankan. Cinta itu tidak dibuat, karena itu namanya make love. Cinta itu ada, ya… karena memang sudah ada dari sananya. Bentuknya bukan benih yang akan bertumbuh. Bentuknya bukan harta karun yang menunggu ditemukan. Cinta hanya akan ada karena sebuah ruang kosong yang ada di angkasa itu tiba-tiba menggumpalkan semua kotoran-kotoran dan bebatuan kecil yang ada, sehingga akhirnya memadat menjadi sebuah galaksi. Menjadi bintang. Menjadi planet. Memapat. Menjadi bumi. Menjadi hidup. Menjadi keabadian.

            Discovering love. Adalah sebuah pertanyaan yang tidak akan pernah ada jawabnya selayak ketika ada yang bertanya, “Siapakah Tuhan?”. Cinta itu memang tidak untuk ditemukan. Tidak untuk dipahami. Karena cinta itu bukan misteri. Cinta itu butiran pasir yang dihembus angin gurun. Lalu butiran pasir itu akan kembali menumpuk menjadi gundukan-gundukan kelembutan yang memang sudah berada di sana. Yang sudah diinjak-injak, dilempar-lempar, diacuhkan. Tapi sebenarnya sangat ada.

            Pemikiran tertulis ini setidaknya untuk beberapa sarapan dan makan malam—karena semuanya akan kita lupakan saat makan siang. Bahwa cinta itu sungguh sungguh ADA. Dan bagi orang yang belum dapat mendefinisikan cinta, berburuk sangkalah pada diri Anda untuk tidak melihat sesuatu yang begitu jelas di hadapan jiwa, di antara tulang rusuk belakang dan otak besar. Semuanya begitu jelas. Dan kebutaan yang Anda alami amatlah parah. Anda membutuhkan lebih dari sekedar pengobatan laser. Anda merasakan hidup, tapi cinta, tidak? Adakah hidup tanpa cinta? Cinta itu adalah roh yang lepas. Ia tidak butuh hidup. Hiduplah yang menungguinya.

            Bagi orang-orang yang sudah dapat mendefinisikan cinta, jangan cepat percaya. Jangan terpengaruh akan satu aksara pun. Semua itu sudah ada di dalam diri Anda, tinggal Anda menengoknya, memperhatikannya. Sungguh tidak adil jika persepsi Anda berubah orientasi hanya karena dua-tiga argumen.

            Bagi orang-orang yang mengetahui dirinya sendiri  adalah cinta, tapi goyah—kabur, tidak yakin dan pasti,……. berbahagialah. Anda adalah orang-orang yang akan diselamatkan. Love shall let you fly. Selamat bergabung dalam klub pecinta ketidakpastian cinta  yang sangat pasti. 

Oktober 2003

Mengapa Artis Indonesia Lebih Disayang Dibanding Pemerintah Indonesia?

April 6th, 2006 by xxxta

Akhir-akhir ini memang sulit menentukan siapa yang P1010078sayang siapa. Alam saja sudah tidak bersahabat dengan Indonesia, lihat saja, apa yang telah diperbuat alam di Aceh, di Jawa Timur, sampai Tangerang dan Kali Pesanggrhan sekalipun. Tapi kemudian kita harus membedakan lagi, manakah yang amukan ibu pertiwi, mana yang human error dan moral hazard.. Setelah semua itu, yang paling mengejutkan adalah tindakan pembetulan yang kembali menstabilkan mental rakyat Indonesia bukan berasal dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah dipercayakan rakyat, melainkan dari para selebriti.

            Entah memang untuk suatu hal yang bisa digosipi kemudian, atau demi kelokkan moral mereka sendiri, artis-artis itu selalu menggelar konser amal setelah terjadinya suatu kejadian yang tidak mengenakkan, hasilnya selalu tersalur dengan rapi langsung ke tangan korban, tanpa adanya tangan-tangan kotor birokrasi yang menghambatnya. Entahlah, tidak untuk menjadi menghakimi disini, tapi mengapa rasanya kita tidak pernah percaya pada DAU, DAK, dan dana-dana bantuan umum lain. Bila sempat dituliskan di APBN sebesar Rp 1 milyar, apakah sampai dengan selamat sampai di tempat tujuan.

            Padahal pemerintah dan selebriti bisa dikatakan setali tiga uang. Pekerjaan mereka  sama-sama mendapatkan gaji dari ”menghibur” masyarakat secara umum, sama-sama disorot dan setiap tindakan mereka selalu dinilai dan dikomentari media. Artinya, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk dikenal dan disayang oleh masyarakat umum, lebih daripada kesempatan saya dan Anda.. Kenapa pada akhirnya Peterpan, Dewi Sandra dan Glenn, lebih didengarkan dibanding, Sutiyoso, misalnya? Kenapa kita lebih hapal lirik lagu SamSonS dibanding apa yang dikatakan SBY tanggal 16 Agustus tahun lalu? Kenapa sih, kita begitu tidak pedulinya dengan pejabat-pejabat itu, padahal mereka sangat bertanggungjawab atas kelangsungan hidup kita, atas hak-hak kita, atas segala apapun yang akan kita perbuat di atas tanah ”mereka” ini?

            Sikap apatis yang mendarah daging ini kemungkinan besar tersembur dari sinisme dan pesimistis yang sudah lama kita pendam sampai-sampai tidak terasa lagi, padahal hal tersebut ada. Sebegitu buruknyakah negara ini sehingga Selasa lalu (28/03), 43 mahasiswa Papua meminta suaka politis ke Australia dan Papua Nugini? Sebegitu kejamnyakah aparat di Papua sehingga 80 mahasiswa Papua lebih memilih tinggal di hutan, dibanding rumahnya sendiri? Apa yang mereka lalukan terhadap rumah kita, rasa aman kita, kemenangan kita di tahun ’45?

            Artis, mereka selalu tur keliling Indonesia. Sebuah grup band baru yang mucul Juli tahun lalu, telah melakukan 3 bulan tur dari 9 bulan ”masa hidup”nya sampai hari ini (apa yang Bapak dan Ibu lakukan dalam 9 bulan masa jabatan Anda?). Mereka benar-benar menjangkau tempat-tempat paling kecil, yang kadang tidak didaftarkan di rencana anggaran tahunan pemerintah, mereka datangi juga, sampai akhirnya mereka juga berhasil menduduki tempat yang paling sulit untuk didatangi; hati masyarakat umum. Mereka membalas jika kita melambai, mereka diam saja jika kita jambak, kita cium, kita gosipkan. Sementara pak pejabat pasti akan memenjarakan kita dengan berbagai cara kalau saja kita gosipkan.

            Seandainya saja, para pejabat bekerja sekeras artis Indonesia bekerja keras mempersiapkan konser, mungkin Indonesia akan lebih bahagia. Seandainya saja, para pejabat mengadakan kunjungan ke daerah-daerah serajin artis melakukan tur keliling Indonesia, mungkin kita tidak akan sejahat ini menilai pemerintah kita. Toh kita juga bayar tiket untuk melihat pertunjukkan mereka yang seharusnya mengangkat kita melalui masa-masa sulit ini, dalam bentuk pajak. Jadi, kapan show nya , Pak, Bu? Saya sudah beli tiket VIP lho…

(29 mar -06)

March 18th, 2006 by xxxta

Agama Pohon Asem

Di dalam ketakutan yang luar biasa, Ia hadir…

Di dalam pencarian diam, Ia berkata…

Di dalam doa, Ia ADA..

Di tiap nafas, Ia mengisi dengan hidupNya…

Saya lahir dari keluarga Katolik. Nenek saya menyekolahkan semua anak laki-lakinya di Seminari. Sayang, yang berhasil hanya satu dari sembilan. Tentunya itu juga bukan ayah saya. Entah kenapa, justru anak-anak Eyang yang lain, yang tidak jebol Seminari itu malah menjadi orang-orang yang paling malas ke Gereja. Paling hanya pada saat Natal, dan kalau sempat pada saat Paskah. Dari kecil, saya pun secara tidak sengaja selalu didaftarkan dalam “seminari-seminari mungil”. Dari TK sampai SMU selalu saja sekolah Katolik. Perhatikan saja nama saya : Christa. Artinya, “Pengikut Kristus”. Padahal, kapan saya ditanya apa mau jadi pengikut Kristus atau tidak? Kapan saya menolak menjadi pengikut Buddha Gautama, Sang Hyang Widi, ataupun Muhammad sekalipun? Ketika masih pakai Pampers dan berlarian di halaman, saya masih terima. Waktu seragam sekolah menjadi merah-putih dan biru tua-putih pun, saya masih ayok ayok aja. Tapi makin lama, saya mulai mengenal buku-buku lain selain Alkitab. Buku Kimia, buku Fisika, Sejarah, Matematika. Sampailah saya pada puncak penolakan. Pemikiran awal yang membuahkan klimaks Iman sebagai pertanyaan. Bukannya sepanjang jalan di “seminari-seminari mungil” itu saya tidak mendengar keajaiban Tuhan. Tentu saja ada. Ketika Ayke(nama samaran) tidak berusaha menyilet-nyilet tubuhnya lagi setelah mendengar pelajaran Agama, ketika Royke(nama samaran) tidak frustasi lagi setelah gagal naik kelas. Ketika Kristine(nama samaran) tidak lagi kecewa akan kegagalan cintanya. Semua itu, karena adanya rasa percaya mereka akan adanya sesuatu yang indah, katanya. Yang menyambut mereka layaknya embun pukul empat pagi. Yang seterang matahari ketika hendak mencari jarum di tumpukkan jerami. Keajaiban itu ada. Tapi tidak pernah pada saya. Saya masih ke Gereja, kok, di hari Minggu. Tapi di kala misa, saya selalu menguap. Di kala paduan suara menyanyi, saya membaca mantra. Di kala Sang Pastor berhomili, pikiran saya berlari-lari. Tapi di kala semua orang berdoa. Saya paling lama. Saya jadi sering bertanya-tanya, seandainya ke Gereja tidak perlu pakai aturan-aturan dan doa-doa yang dihapal, pasti saya lebih betah. Seandainya itu cuma soal curhat sama Yang Di atas.. pasti saya datang terus. Tapi tahukah Anda, kalau kadang-kadang ekuilibrium justru terjadi saat kita berhenti memusingkan segala sesuatunya? Tahukah Anda, kalau ekuilibrium justru terjadi, saat kita percaya bahwa kondisinya adalah ceteris paribus? Tahukah Anda, malu bertanya sesat di jalan, dan kebanyakan bertanya justru makin sesat di jalan? Itulah kesimpulan saya. Setelah berbagai buku, film, dan pengalaman yang selalu membuat saya bertanya-tanya, akhirnya saya hanya jatuh di kedua lutut saya dan menyatukan jari jemari. Di saat lelah, saya bisa merasakan karuniaNya. Di saat saya betul-betul diam, Ia berbisik dari dalam hati. Di saat saya tidak percaya, Ia mempercayai saya sepenuhnya. Lewat ketenangan yang didapatkan tanpa dopping, Ia berkarya. Lewat kekuatan yang dihadirkan tanpa vitamin, Ia memberi. Lewat pengorbanan seorang sahabat, lewat cinta seorang kekasih, lewat perhatian orang tua, Ia hadir, dan bekerja dalam cara yang misterius. Layaknya bayangan-bayangan putih yang terlihat di layar kaca Anda pada reality show macam “Dunia Lain”, begitu pulalah keajaiban Tuhan ada. Tinggal bagaimana membuka mata hati layaknya Ari Panca untuk melihat semua kegaiban itu. Boleh percaya, boleh tidak. Tapi pengalaman dan pengertian saya di atas yang terdengar baik itu bukan berarti membuat saya jadi seorang Katolik yang diharapkan Nenek saya. Saya tetap menguap di Gereja, tapi setidaknya saya mengerti bahwa semua aturan dalam misa Ekaristi itu terjadi karena hal itu….. indah. Nyanyian-nyanyian surgawi, doa-doa yang berima, pidato pembangkit semangat. Mungkin memang layak. Jadi, bukan masalah besar, sekarang saya Katolik, atau sekarang saya Islam. Agama itu hanya sekedar alat. Aksesoris yang indah. Inti yang sesungguhnya adalah kehadiran Tuhan di setiap kepercayaan. Di dalam ketakutan yang luar biasa, di dalam doa, di pencarian akan diam, dan di tiap nafas. Dan kalaupun nanti saya tambah besar dan makin bingung, sampai-sampai pindah agama, tidak ada yang akan lebih saya cintai selain Yesus Kristus. Karena cuma Ia yang mau berkorban demi kita, cuma Ia yang lebih menakjubkan dari Einstein karena menciptakan rumus hukum cinta kasih yang tak perlu dipertanyakan. Kasihilah sesamamu dan Tuhan Allahmu seperti kau mengasihi dirimu sendiri. Mana ada ajaran semulia itu. Ada sebuah buku yang sangat saya suka. Tentang perumpamaan pohon asem. Pohon itu kurus tapi kokoh, berdiri di luar jendela rumah. Dipelihara bukan demi kepentingan pemiliknya, untuk nanti dibangga-banggakan bunganya, bukan dibonsai untuk dipamerkan. Biasa-biasa saja. Namun pohon itu dipelihara alam, yang kadang hujan dan kadang terik. Tampak subur, bebas dihinggapi burung-burung Gereja dan terlihat begitu bahagia dengan daun rimbunnya. Itulah agama saya.

it’s like..jazz

March 1st, 2006 by xxxta

When somebody asks me, what’s

ur

type of music, I give ‘em the face of uncertainty

I like this sort of chillin, beatin, and heavy and soulful sounds..

Now I know, it’s called jazz..

Something has Float from the corners of

New Orleans

since late 60s, jazz now has evolved into its own so-much-fun package

called the dixies, swing, bossas, funk, until the Indonesians’ band Seurieus’ jazz compilation.Funky!

Was known as the street sounds, authentically from the life style of

Black Americans, politically provocative,  somehow from minority came the tunes of majority fave these days…

now into its own elegance and fashion, so many people use jazz as

their cover. They claimed their music as jazz, without bringing improvement on their stages performance, and

without singing with their inside-out.

Definition of jazz..

"Jazz is said to be the fundamental rhythms of human life and man’s contemporary reassessment of his traditional values"

That’s why for the first time in my life I want to start bloggin

This is a serious mission to save jazz ..

Do you think there’s some people misuse of this beautiful "fundamental rhythms of human life"?

Should we ban those bands?

Anyways, this is not the place for any racist discussion for who have the right, and who has not

just a single warning, DONT PLAY JAZZ WITHOUT RHTYMS,

another breakthrough

Jakarta

has brought besides the ugly law of porn actions, is the second JavaJazz FEstiVaL!!

Now that’s somewhat we can call jazz!!

Flowing from around the world, it’s a miracle to unite those amazing musicians into one gigantic venue,

and what’s best of this javajazz thingy that IT IS  GETTING ANNUAL, people!!

Wonderful to know that actually the

Netherlands

colonization wasn’t so bad anyway, at least we can copy

the oldest jazz festival they held over there.

not having so much money, or simply a campusian whose not quite supported in financing her fonds and willingness

to have fun, I decided (again) to watch the festival from backstage.

Volunteering for the vacancies of the International ARtist Liason Officer (read: skipping classes at fuckin FEUI, piling assignments, and

leaving that so much organizational task) of the three day Java Jazz Festival..

Gladly, this year I got the opportunity to take care those 13 wonderful guys and gals from

U.K.

That Bluey

That Dont You Worry Bout A Thing

That Incognito

ladies and gents, let me introduce you the 2006 Java Jazz Liaison Officer for Incognito

I’ll show some pictures after the festival

Oh, hooray

hopelessly cant handle myself from gayness.

Wish me Luck Halleluiah

-Christa Sabathaly-

1st of March 2006.