Tinggalkan Dia
Jika kepalamu berpikir kau mencintai
seseorang, tapi ada bimbang yang kau timbang di selipan angin yang berhembus di
saraf nadimu.. Berhentilah berpikir bahwa kau mencintainya. Mulailah cintai dia
tanpa syarat, tanpa substitusi, dan tanpa pendapat orang lain yang kau serap.
Atau, tinggalkanlah dia. Jangan
sakiti dia lagi, karena apa yang kau pikir cinta itu hanya ada dalam fantasimu,
sementara kau terus-terusan berputar dalam kegilaan, bisikan-bisikan psikis
yang menantang logikamu. Kemudian sebuah suara yang sangat hening bergeming. J a n g a n.
Jangan coba cintai seseorang, tanpa
keseluruhan hatimu berpikir, dan seluruh otakmu merasa bahwa dialah
satu-satunya. Jangan coba cintai seseorang jika kau tidak berani menanggung
resiko dari semua beban yang akan ditagihkan ke neraca hidupmu, semua
kesalahannya yang akan divoniskan kepadamu, dan terlebih untuk semua kesempatan
yang hilang jika ia lenyap dari hadapmu. Jangan coba cintai seseorang jika
hatimu tidak cukup besar untuk menyimpan sebuah resiko besar, kanker kehidupannya
dalam seutuh kerangka darahmu.
Jangan coba cintai seseorang, jika kau merasa takut. Tinggalkan
dia, dan pilihlah rasa takutmu. Karena selama ini tubuhmu memberikan sinyal
jelas, tapi kau tidak berani menghadapinya. Jika kau tak berani sekarang,
selamanya kau akan terpuruk di persimpangan, dan kau akan berjalan tidak ke
kiri maupun ke kanan, tapi ke tengah-tengah jurang jurusan nol kebahagiaan.
Jika kau takut kehilangan dia, tapi jika kau juga takut menjalani hubungan
dengannya. Maka tinggalkan dia. Agar kau tidak egois. Agar kau hadapi kedua
ketakutanmu dan memulai hidupmu yang baru, yang sudah paham aturan tak
terbantahkan dari ketakutan: kenyataan.
Apa yang kau lakukan pada kenyataan? Kenyataan itu kau peluk, kau sambut dengan
segenap hatimu, kau keram dalam tanganmu, kau jalani dalam setiap langkahmu,
dan kau kecup dalam setiap hembusan detik yang berayun perlahan.
Mungkin kau akan terhuyung-huyung, terbawa badai perang,
terjerumus ke angin topan. Tapi kau tidak akan membawanya bersamamu. Kau
melakukan yang terbaik untuknya, kau tidak menyayanginya lagi, semata-mata
hanya karena kau tidak ingin dia menderita. Kau justru melakukannya agar ia
bahagia. Kau melepaskannya bukan karena kau kejam. Tapi kau memberi ia kesempatan, untuknya untuk merasakan disayang
yang terbesar, yang tidak akan didapatkan dari dirimu yang penuh kepalsuan. Kau
merelakannya, dia akan tersakiti. Namun jika kau menahannya, kau akan
menusuknya perlahan hingga hatinya keram dan tak bisa lagi membedakan mana yang
disebut rasa sayang dan obsesif kompulsif.
Berikan yang terbaik, hanya kepada dia yang memberikanmu
kepercayaan diri terbaik untuk menyayanginya. Berikan yang terindah, hanya
kepada dia yang membawamu kepada keindahan yang terpanjang. Tapi tinggalkan dia
yang memberikanmu kebingungan, memberikanmu pemikiran dan penilaian, serta memberikanmu
kemunafikkan terhadap dirimu sendiri.
Carilah ia, yang menjawab semua kesulitan tanpa perkataan,
memberikan ciuman tanpa pertanyaan, mengambil hatimu saat kau menyadarinya, sepenuh
logika.
Karena mungkin saja orang yang kau pikir kau cintai itu,
hanyalah perkah oranye di sela senja yang
luar biasa, ketika yang akan kau dapatkan selanjutnya adalah : cahaya
magenta semua venus di semesta raya.
October 7th, 2008 at 8:50 pm
bener2 mengugah dan menyadarkan…
makasih nasehatnya…