Poppy Sayang

            Sejak kedatangan makhluk putih manis ini ke dalam hidup saya, hari-hari terasa lebih melegakan. Ia mengajarkan saya lebih mandiri, lebih berani, dan bersama dia, kita menaklukkan waktu dan jarak bersama-sama. Perjalanan Jakarta-Depok yang biasanya berat dan berisik, jadi lebih enteng dan stereo karena tarikannya lembut dan subwoovernya yang mantap. Biasanya dengar suara kaset rusak, sekarang bergeminglah suara dari MP3/WMA/CD favorit.

            Memiliki Poppy adalah kebanggaan tersendiri, selain dia sangat molek dan mulus, masih relatif baru di antara teman-teman jalanan lainnya, dia sangat mewakili sebagian besar dari apa yang terjadi dalam hidup, akhir-akhir ini.        

            Dia baret, dia penyok, dia hancur di bagian bemper fiber kiri depan. Alasannya keburu-buruan tak bertanggungjawab. Ketidakhati-hatian, yang bermuara kekecewaan. Sering dalam hidup kita berkata, “hal ini sama sekali tidak perlu terjadi.” Tapi hal itu terjadi.

            Poppy jadi tidak mulus lagi. Dia bengkok, patah, tersakiti. Akibat kegegabahan semata. Kejadiannya begitu cepat, hanya dalam beberapa detik, sedikit tarikan, lalu ia membentur beton sampah tetangga sebelah. Bam! Beton itu runtuh seiring dengan erangan Poppy yang menyebabkannya tidak perawan lagi.

            Hal ini terjadi juga dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali dalam sebuah hubungan, ada yang menyakiti dan disakiti. Kita tidak bisa menentukan yang mana duluan, karena fungsi keberadaannya yang rancu. Misalnya seperti telur dulu atau ayam atau hutan dulu baru padang pasir? Dalam konteks di atas, apakah beton sampah itu dulu yang tidak seharusnya berada di situ, ataukah hukum benturan yang membawa keduanya ke dalam kehancuran? Semuanya bisa didebatkan. Intinya, ketika suatu hubungan telah terjadi diantara dua orang atau lebih, entah dalam hubungan apapun, kemungkinan untuk saling menyakiti itu sangat hadir. Ketika kita berpikir, kenapa kita terus yang disakiti? Tahan dulu.

Napas.

Pikir lagi.

Barang sekuat beton saja bisa rubuh. Makhluk seindah Poppy bisa jadi buruk. Siapapun juga bisa tersakiti atas konsekuensi tiap eksekusi perbuatan, bukan hanya diri sendiri. Ketika kita disakiti, pasti ada sebuah hubungan timbal balik yang rumit dimana kita juga ambil bagian kausalitas dari alasan pihak lain sehingga menyakiti kita.

            Menaikki Poppy yang kini bopeng jadi tidak sebangga dulu lagi. Saya terus bertanya-tanya pada Poppy. Pop, kenapa sih kamu nggak kasi tau kalo ada barang sekeras itu di depan kamu? Seandainya 3 detik lebih awal saya tahu, pasti gak akan kayak gini jadinya. Sebanyak saya kecewa pada Poppy, semakin berkurang kebahagiaan saya untuk bersama dengan Poppy. Tapi saya bertahan, mungkin berhubung memang gak ada yang lain lagi, atau memang kita jodoh. Bagaimanapun juga, saya membutuhkan dia. Walau sekarang dia sudah jelek di mata saya.

            Anehnya, ia tetap berfungsi seperti biasa. Tarikan lembut, suara dalam mantap, siang, malam, pagi, macet, lancar, jalur lambat, jalur cepat, Bundaran HI, puteran UI.. Benar-benar senyaman biasanya. Apakah Poppy dan saya sudah berada dalam ’comfort zone’, jadi walaupun rupanya kayak apa, saya juga akan tetap mencintainya? Hal ini membuat saya sadar bahwa kadang-kadang kita memang boleh mencintai karena alasan yang salah. Kita boleh menyukai kesempurnaan, mematok harga tinggi atas segala pilihan hidup kita, memilih untuk menjadi seseorang yang sulit dipenuhi. Tapi ada saatnya, kita harus menghadapi apapun yang merintangi hal tersebut, dan membuat kita menurunkan standar dan meyakini diri bahwa hal yang paling pasti dalam hidup ini adalah ketidaksempurnaan, dan itulah yang membuat kita bergerak. Pasar selalu mencari pasar persaingan sempurna dalam setiap kebijakan yang dibuatnya, kita belajar sejak TK untuk mencari kesempurnaan hidup, kita bergerak menuju kesempurnaan, kita bergerak mencari komplementer, karena apa? Karena kita, tidak sempurna.

..

            Satu hal lagi yang membuat saya belajar dari peristiwa berdarah itu adalah belajar percaya terhadap hal-hal buruk yang saya lakukan. Apalah yang tidak menyebabkan harapan kalau bukan ketidakpercayaan? Ketika kita terus-terusan menutup mata untuk berharap hal buruk yang terjadi itu mimpi, ketika kita terus menerus menghindari ramalan bintang yang jelek dan mau percaya yang bagus-bagus aja. Kita melenyapkan harapan yang seharusnya ada. Harapan itu bergerak ke depan. Ketika tidakpercayaan menginterupsi, kita mencoba bergerak ke belakang. Alhasil, tidak ada yang kita dapatkan karena kita berusaha untuk mencegah sesuatu yang sudah terjadi. Kekuatan kita terbesar adalah ketika kita berani mengakui kelemahan kita. Sehingga ketika harapan itu timbul, dan mencangkul kita dengan perihnya, tapi membangunkan mercusuar yang kokoh sehingga kita tidak akan lepas kendali dari badai.

            Kehadiran si kecil Poppy merupakan kegembiraan tersendiri. Dia memang tidak seindah dulu. Tapi apalah keindahan itu? Walaupun nanti ada orang yang memiliki Poppy yang lebih mulus dan berbau baru, saya sudah bangga dengan punya sendiri. Kami punya kenangan, kami punya harapan, terlebih lagi saya dan dia tidak sempurna. Hal itulah yang menjadi tujuan kami hidup, dan membuat kami berusaha untuk berbuat lebih baik dan lebih hati-hati lagi.

11 april 2007

3 Responses to “Poppy Sayang”

  1. aLLaManDa Says:

    kenangan, harapan, cita-cita, ketidaksempurnaan…
    *sigh!
    apakah salah kalau tetap ingin memiliki yang lebih baik?
    (aaaaahhhh, aku rindu our chitchat session!)

  2. 'x'ta Says:

    mengusahakan segala sesuatu menjadi lebih baik of course gak ada salahnya darling..
    Tapi kalo cuma menginginkan, mendambakan,sampai merusak hubungan yang ada sekarang. Then u are a bad, bad, girl.
    miss yu too so matj. Muuuuuaaaaaaaach!!

  3. Juji Says:

    hmmm…
    i like this one…
    it feels like true..

Leave a Reply