Archive for April, 2007

Berpindah Dengan Waktu

Wednesday, April 11th, 2007

            

Ketika dalam hidupmu, kau berpindah dari titik A ke A-, itu akan membuat jalanmu juga terbanting ke jalur lambat dari jalur cepat. Seketika semuanya yang terasa amat nyaman, lancar, mudah, berpindah dan membuatmu rentan akan waktu dan irama hidupmu pun melambat.

            Kau terbingung-bingung. Apa yang harus kau lakukan untuk membunuh waktu, karena sekarang ia nampak bagaikan pasukan Persia Raya yang harus kau tebas satu per satu. Setiap kali kau pandang jam tanganmu, perhitunganmu meleset. Seakan-akan semuanya berjalan mundur.

            Kejadian buruk ini kita sebut juga dengan pergeseran dari ”comfort zone”. Ingat? Comfort Zone adalah zona dengan gravitasi terberat, karena ia selalu menarikmu ke dalamnya sehingga kau tidak lagi percaya bahwa zona semacam ini eksis ribuan di luar galaksi sana. Kejadian buruk ini membuat gerak hidupmu dalam S l o w m o t i o n  , karena gravitasi yang kau lawan luar biasa kuat massanya.

            Besaran dari gaya yang kau lawan itu, sekali lagi muncul sebagai partai oposisi, adalah sang waktu. Penjelasan dari waktu ialah segala sesuatu yang mekanis dan bergerak. Kita bayangkan sebuah benda dengan koordinat X (datar), Y (tegak), dan Z (dimensi ketiga). Jika benda tersebut diam saja pada tempatnya, kita tidak akan pernah bisa mengukur waktu yang dilalui benda tersebut. Variabel t (waktu) hanya dapat diukur ketika terjadi perpindahan koordinat lain, secara mekanis.

            Dari deskripsi di atas bisa kita sepakati bahwa waktu adalah variabel yang bergerak, bukan? Jika kita lain kali mendengar seseorang berkata ”tenanglah, waktu yang akan menyembuhkanmu”, maka dapat kita rumuskan : MANUSIA + KEJADIAN BURUK + WAKTU = sembuh. Tapi, ternyata tidak semudah itu. Varibel waktu itu dependen terhadap pergerakan. Jadi kalau kita cari derivasinya, kita akan mendapatkan rumus yang lebih konkrit, MANUSIA + KEJADIAN BURUK + BERGERAK KELUAR DARI COMFORT ZONE = sembuh.

            Pada poin ini semuanya tampak lebih padat dan nyata. Kini kita ketahui bahwa untuk mengatasi suatu kejadian buruk, kita butuh pergerakan. Kita butuh ritme baru yang dapat melawan gravitasi comfort zone yang tidak bukan adalah sumber dari semua kejadian buruk yang kita lalui. Mudahnya, kita butuh pergi ke luar sana, mencari sumber-sumber penyegaran baru, meluangkan secangkir dua cangkir kopi dengan teman baru, memperbaharui hubungan dengan teman lama, menyibukkan diri dengan isu-isu yang baru saja kita sadari, semua hal baru ini, untuk suatu comfort zone baru, lingkaran halo baru, yang membuat memiliki energi positif yang memancar dengan kekuatan ultra.

            Lalu, apa yang harus kita lakukan, jika, seperti pembahasan awal tadi dikatakan bahwa, waktu bisa menjadi siksaan lambat? Kawan, semua itu terjadi ketika kau menghitung apa saja yang telah kau lakukan seiring dengan berjalannya waktu. Dalam hidup, manusia sering menghitung berapa banyak yang telah ia capai dan bukan yang ia hilangkan. Ketika kita menghitung berapa banyak yang telah kita capai, maka kita tidak akan pernah puas, karena kita terus melihat ke langit yang tanpa batas itu. Tapi ketika kita secara sadar mengerti bahwa sebagian keburukan kita telah hilang, walaupun dengan sangat perlahan, pastinya kita akan lebih bersyukur. Idealnya, jika kita terus habiskan waktu kita untuk menaruh sebuah baris dalam CV, kapan kita akhirnya punya keberanian untuk melamar pekerjaan yang kita inginkan? Toh, selalu akan ada orang yang punya CV lebih panjang.

            Kembali ke masalah pelambatan waktu, salah satu faktor juga mungkin karena kita terlalu memusingkan hal-hal yang bukan jobdesc kita. Apakah usaha yang saya lakukan akan menghasilkan sesuatu? Apa orang ini bisa menjadi seseorang yang akhirnya bisa menggantikan dia? Kapan saya akan menemukan yang terbaik? Saya juga pernah menanyakan hal tersebut, tapi seorang teman yang sangat tak terkira menunjuk ke arah saya dan mengatakan , ”..that is not for you to answer , but God to arrange.”

            ..

            hiduplah, untuk hari ini. Jadilah hidup, di hari ini. Gunakan waktumu dengan pergerakan yang berarti, jadikan waktu sebagai sahabat dalam perpindahan untuk melawan gravitasi yang hanya akan membelurkanmu ke memori utopis. Yang terpenting : pasrah. Yakinlah Tuhan juga mahaprofesional. He’ll do His job.

2 April 2007

Poppy Sayang

Wednesday, April 11th, 2007

            Sejak kedatangan makhluk putih manis ini ke dalam hidup saya, hari-hari terasa lebih melegakan. Ia mengajarkan saya lebih mandiri, lebih berani, dan bersama dia, kita menaklukkan waktu dan jarak bersama-sama. Perjalanan Jakarta-Depok yang biasanya berat dan berisik, jadi lebih enteng dan stereo karena tarikannya lembut dan subwoovernya yang mantap. Biasanya dengar suara kaset rusak, sekarang bergeminglah suara dari MP3/WMA/CD favorit.

            Memiliki Poppy adalah kebanggaan tersendiri, selain dia sangat molek dan mulus, masih relatif baru di antara teman-teman jalanan lainnya, dia sangat mewakili sebagian besar dari apa yang terjadi dalam hidup, akhir-akhir ini.        

            Dia baret, dia penyok, dia hancur di bagian bemper fiber kiri depan. Alasannya keburu-buruan tak bertanggungjawab. Ketidakhati-hatian, yang bermuara kekecewaan. Sering dalam hidup kita berkata, “hal ini sama sekali tidak perlu terjadi.” Tapi hal itu terjadi.

            Poppy jadi tidak mulus lagi. Dia bengkok, patah, tersakiti. Akibat kegegabahan semata. Kejadiannya begitu cepat, hanya dalam beberapa detik, sedikit tarikan, lalu ia membentur beton sampah tetangga sebelah. Bam! Beton itu runtuh seiring dengan erangan Poppy yang menyebabkannya tidak perawan lagi.

            Hal ini terjadi juga dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali dalam sebuah hubungan, ada yang menyakiti dan disakiti. Kita tidak bisa menentukan yang mana duluan, karena fungsi keberadaannya yang rancu. Misalnya seperti telur dulu atau ayam atau hutan dulu baru padang pasir? Dalam konteks di atas, apakah beton sampah itu dulu yang tidak seharusnya berada di situ, ataukah hukum benturan yang membawa keduanya ke dalam kehancuran? Semuanya bisa didebatkan. Intinya, ketika suatu hubungan telah terjadi diantara dua orang atau lebih, entah dalam hubungan apapun, kemungkinan untuk saling menyakiti itu sangat hadir. Ketika kita berpikir, kenapa kita terus yang disakiti? Tahan dulu.

Napas.

Pikir lagi.

Barang sekuat beton saja bisa rubuh. Makhluk seindah Poppy bisa jadi buruk. Siapapun juga bisa tersakiti atas konsekuensi tiap eksekusi perbuatan, bukan hanya diri sendiri. Ketika kita disakiti, pasti ada sebuah hubungan timbal balik yang rumit dimana kita juga ambil bagian kausalitas dari alasan pihak lain sehingga menyakiti kita.

            Menaikki Poppy yang kini bopeng jadi tidak sebangga dulu lagi. Saya terus bertanya-tanya pada Poppy. Pop, kenapa sih kamu nggak kasi tau kalo ada barang sekeras itu di depan kamu? Seandainya 3 detik lebih awal saya tahu, pasti gak akan kayak gini jadinya. Sebanyak saya kecewa pada Poppy, semakin berkurang kebahagiaan saya untuk bersama dengan Poppy. Tapi saya bertahan, mungkin berhubung memang gak ada yang lain lagi, atau memang kita jodoh. Bagaimanapun juga, saya membutuhkan dia. Walau sekarang dia sudah jelek di mata saya.

            Anehnya, ia tetap berfungsi seperti biasa. Tarikan lembut, suara dalam mantap, siang, malam, pagi, macet, lancar, jalur lambat, jalur cepat, Bundaran HI, puteran UI.. Benar-benar senyaman biasanya. Apakah Poppy dan saya sudah berada dalam ’comfort zone’, jadi walaupun rupanya kayak apa, saya juga akan tetap mencintainya? Hal ini membuat saya sadar bahwa kadang-kadang kita memang boleh mencintai karena alasan yang salah. Kita boleh menyukai kesempurnaan, mematok harga tinggi atas segala pilihan hidup kita, memilih untuk menjadi seseorang yang sulit dipenuhi. Tapi ada saatnya, kita harus menghadapi apapun yang merintangi hal tersebut, dan membuat kita menurunkan standar dan meyakini diri bahwa hal yang paling pasti dalam hidup ini adalah ketidaksempurnaan, dan itulah yang membuat kita bergerak. Pasar selalu mencari pasar persaingan sempurna dalam setiap kebijakan yang dibuatnya, kita belajar sejak TK untuk mencari kesempurnaan hidup, kita bergerak menuju kesempurnaan, kita bergerak mencari komplementer, karena apa? Karena kita, tidak sempurna.

..

            Satu hal lagi yang membuat saya belajar dari peristiwa berdarah itu adalah belajar percaya terhadap hal-hal buruk yang saya lakukan. Apalah yang tidak menyebabkan harapan kalau bukan ketidakpercayaan? Ketika kita terus-terusan menutup mata untuk berharap hal buruk yang terjadi itu mimpi, ketika kita terus menerus menghindari ramalan bintang yang jelek dan mau percaya yang bagus-bagus aja. Kita melenyapkan harapan yang seharusnya ada. Harapan itu bergerak ke depan. Ketika tidakpercayaan menginterupsi, kita mencoba bergerak ke belakang. Alhasil, tidak ada yang kita dapatkan karena kita berusaha untuk mencegah sesuatu yang sudah terjadi. Kekuatan kita terbesar adalah ketika kita berani mengakui kelemahan kita. Sehingga ketika harapan itu timbul, dan mencangkul kita dengan perihnya, tapi membangunkan mercusuar yang kokoh sehingga kita tidak akan lepas kendali dari badai.

            Kehadiran si kecil Poppy merupakan kegembiraan tersendiri. Dia memang tidak seindah dulu. Tapi apalah keindahan itu? Walaupun nanti ada orang yang memiliki Poppy yang lebih mulus dan berbau baru, saya sudah bangga dengan punya sendiri. Kami punya kenangan, kami punya harapan, terlebih lagi saya dan dia tidak sempurna. Hal itulah yang menjadi tujuan kami hidup, dan membuat kami berusaha untuk berbuat lebih baik dan lebih hati-hati lagi.

11 april 2007

surat buat saya

Wednesday, April 4th, 2007

seorang kawan lagi, yang ternyata adalah penenun kata yang jitu. Teman diskusi pada isu-isu yang menarik, dan bergaya seno gumira aji darma. Temukan this wordwriting genious di :

http://awigra.blogspot.com

terima kasih buat suratnya,  *menghibur*. hahaha

Surat Buat Christa

Seandainya kita pernah satu kelas pada masa-masa SMA, atau pernah ambil satu mata kuliah bareng, pastinya aku akan mengajukan diri untuk memilih menjadi ‘teman sebangkumu’.

Bukan untuk memilih-milih teman atau mebeda-bedakan satu dan yang lain, yang jelas banyak unsur ketidakadilannya di sana. Tapi, aku adalah seorang penganut paham: HIDUP ADALAH PILIHAN.

Aku rasa, pengandaian di atas belumlah terlambat. Akhirnya, kita pun dipertemukan dalam satu forum…

Aku tidak tahu apakah ini sebuah kebetulan semata atau misteri. Bukan untuk terlalu membesar-besarkan makna pertemuan kita. Atau aku terlalu melankolis akhir-akhir ini. Tapi aku yakin, dalam setiap perjumpaan ada persentuhan (baca: PERSEN TUHAN). Bagiku, setiap perjumpaan adalah BERKAT-

Aku pengen tahu kamu lebih banyak. Itu saja intinya… Ketika aku menyadari, kalau kamu juga adalah ‘hadiah’ dari-NYA. Sepertinya ada yang salah saja jika aku tidak mau tahu atau membiarkan berkat perjumpaan antara kamu dan aku…..

Dari sedikit pemahamanku menyambut kamu, mungkin kamu bisa langsung menunjuk ada sesuatu yang kotradiktif. Satu soal berkat (bisa juga dimaknai sebagai misteri), dan yang lain soal pilihan.

Misteri bisa jadi dimaknai sebagai sesuatu yang tidak pernah bisa kita pahamai, dan di sisi lain, pilihan secara sederhana bisa dimaknai sebagai bentuk ungkapan sikap atas sebuah kesadaran utuh. Dua hal yang menurutku bertentangan. Satu ada unsur kebetulan dan ketdiaksengajaan dan yang lain merupakan kesengajaan….

Dalam dua tarik-menarik antara misteri dan pilihan, aku tulis email ini…

Christa, dunia bagiku memang tampil paradoks. Satu sisi dia sangatlah luas, tapi di sisi lain sempit. Seperti paradoks globalisasi. Globalisasi di satu sisi mengumpulkan orang-orang dari seluruh penjuru dunia dalam kampung, tapi di sisi lain globalisasi sungguh memisahkan, antara yang ‘miskin’ (penjual krupuk yang kita temui beberapa kali, waktu aku nebeng pulang itu…) dengan pengusaha potato, taro, dan sebagainya. Pada akhirnya yang ‘miskin’ (aku sebut miskin karena dia tidak bisa masuk dalam global village itu, entah karena tidak satu bahasa dengan para warganya,atau karena hal lain. Walaupun mereka sama-sama manusia), akan tergilas globlisasi dengan gerbong neoliberalisme-nya.

Bagiku, kamu juga bagian dari tampilan dunia yang paradoks itu. Kamu ternyata adik ipar temenku, HELEN.

Christa, selain paradoks, dunia bagiku juga tampil berwarna-warni. Tapi, seringkali aku tidak bisa mengenali warna-warna di duniaku sendiri. Kerap aku ibarat seorang buta warna. Karena, banyak sekali tampilan abu-abu (campuran hitam-putih) di depan mataku.

Di sanalah Christa, aku menginginkan kamu menjadi teman sebangkuku. Tidak sekadar menemaniku di saat aku senang dan susah. Tapi lebih dari itu, aku ingin kamu menjelaskan banyak warna-warni dunia dari sudut kelopak indah matamu….

Sekali lagi Christa, aku ingin mengetahuimu lebih banyak. Bukan untuk sekadar urusan pribadi, apalagi investigasi… Tapi, untuk urusan dunia ini. Dunia yang paradoks, warna-warni, abu-abu dan misteri. Di sana aku memilih kamu untuk membantuku (bersama dengan teman-teman lain tentu saja) melihat dan merasakan senja, fajar, terang, gelap, panas dan sejuknya dunia. Aku yakin, kamulah orangnya yang aku cari selama ini. Kenapa? Entah. Karena, aku sudah tidak tahu lagi hitam dan putih. Mengertikah kamu?

Ah Christa, mungkin ini terlalu berlebih. Jangan terlalu serius…Aku hanya ingin menulis dalam temaram senja Metropolitan, sembari membayangkanmu…