Kebenaran Telanjang

Sampai kapan orang akan percaya terhadap kebenaran yang telanjang? Sampai kapan kita terus berpikir bahwa kebaikan itu selalu terbalut, dan bukan mulus dan terbuka.

Sampai kapan kita sadar, bahwa kemaksiatan timbul dari hiperbola kesucian, dan keseksian ada dalam pikiran?

Bentuk mini yang mengungkung kita terdiri dari tulang, kulit, dan rerambutan. Sebenarnya kita jauh di atas itu semua. Kita ini semua sebenarnya adalah nuansa, aura, dan segala hal yang berputar-putar di angkasa. Manusia bukan payudara atau buah zakar, bukan darah dan air mata, tapi jiwa, yang kadang-kadang terbang dari orbitnya.

Lalu kenapa kita masih mempermasalahkan bahwasannya kita perlu memakai kain tipis untuk menutupi aurat kita yang sebenarnya tidak ada, batasan-batasan fisik yang kita cipta, dan napsu-napsu hewani yang kita kuasai?

Jiwa, ada di atas semua itu. Jiwa, ada dalam koteka, ada dalam patung apsara yang gamblang, yang sebenar-benarnya tanpa maksud jahat dan cuma fungsi penunjang hidup. Mereka yang di atas otak kita sana sudah tahu kalau kita berlaku seperti topeng monyet, pakai-pakai jubah tapi pikiran joroknya tidak dipayungi. Karena itu alien tidak memakai baju. Karena mereka tahu, kita ini manusia-manusia yang sering terjebak dalam fatamorgana kotornya sendiri.

Sampai kapan sih, akhirnya kita paham bahwa kesucian adalah melihat ketelanjangan tanpa firasat. Menyentuh adalah bentuk keperluan fungsional, bukan eksekusi birahi? Sampai kapan akhirnya kita berani berkaca pada zaman tinggal di goa-goa dan mulai meresapi makna kebersamaan yang ditimbulkan oleh lepasnya pakaian dan tinggalnya jiwa?

Sampai kapan , kita akan sadar, sampai kapan paradigma itu akan bergeser. Bahwa kesucian tidak melekat pada apapun melainkan melayang? Akankah pada perjalanan hidup ini kita sadar akan kejernihan yang berwarna bening, bukan berwarna putih?

Mungkin sampai lumba-lumba kembali ke daratan lagi. Entah kapan.

Tolong, mengertilah, kalau semua yang ditutupi  itu bukan berarti bohong. Setiap kepala punya sistemnya. Jangan kau tuding tuduh lagi.

4 Responses to “Kebenaran Telanjang”

  1. Leo Says:

    ” Sampai kapan sih, akhirnya kita paham bahwa kesucian adalah melihat ketelanjangan tanpa firasat. Menyentuh adalah bentuk keperluan fungsional, bukan eksekusi birahi? Sampai kapan akhirnya kita berani berkaca pada zaman tinggal di goa-goa dan mulai meresapi makna kebersamaan yang ditimbulkan oleh lepasnya pakaian dan tinggalnya jiwa?”

    MENURUT GUE TIDAK AKAN PERNAH KARENA:
    1. MANUSIA ADALAH MAHLUK RASIONAL. PROSES TESIS - ANTI TESIS = SINTESA, YANG BERULANG-ULANG SELALU DIMULAI DARI FIRASAT (BAIK BURUK/BAIK) YANG TERJAWANTAHKAN DALAM PERTANYAAN-PERTANYAAN.

    BAHKAN KETIKA LOE MEMPERTANYAKAN PERTANYAAN DIATAS (PERTANYAAN YG LOE TULIS) LU MEMILIKI SUATU FIRASAT TERTENTU AKAN KETELANJANAGN

    2. MANUSIA ADALAH INDIVIDU BEBAS YANG MENENTUKAN SEGALA SESUATU SEBAGAI SUATU YANG RELATIF KEBENARANNYA (SARTRE.

    KETIKA LOE MEYANTAKAN BAHWA KESUCIAN ITU MELAYANG ATAU SEMUA YANG DI TUTUP-TUTUPI BUKAN BERARTI BOHONG, LOE SEBENARNYA TELAH MENJALANKAN DIRI LO SEBAGAI MANUSIA BEBAS & RASIONAL.

    SEBENARNYA SIH MENURUT GUE KESUCIAN ITU NGAK ADA. BAHKAN KETIKA MANUSIA TINGGAL DI GOA KESUCIAN ITU JUGA NGAK ADA, MESKIPUN SAAT ITU MEREKA TIDAK SELALU BIRAHI TERHADAP KETELANJANGAN…MEREKA JUGA TETAP SALING MEMBUNUH BUKAN??? DAN ITU MENUNJUKAN MEREKA ADALAH MAHKLUK RASIONAL DAN BEBAS….

  2. 'x'ta Says:

    benar. Jawabannya adalah tidak akan pernah. Menyedihkan bukan? :)

  3. 'x'ta Says:

    but, btw, “ketelanjangan” juga bisa dilihat beyond dari kata harafiahnya lho. Ketelanjangan berarti apa yang ingin disampaikan, fakta yang diberikan, yang membungkus sesuatu yang sebenarnya jiwa. But every point of view is indeed acceptable. :)

  4. Leo Says:

    sepakat sekali bung

Leave a Reply