Archive for January, 2007

Seks , Perselingkuhan, dan Masturbasi

Friday, January 12th, 2007

Saya baru tahu akhir-akhir ini kalau orang boleh menuliskan pendapatnya tentang seks di blog, setelah membaca blog seorang teman yang jujur berjudul “Seks Lima Belas Menit” (http://www.taman-kecil.tk) Tapi disini kita tidak akan memperjelas langkah-langkah melakukan kegiatan seksual (kegiatan = aktivitas, seksual = berhubungan dengan kelamin) karena silahkan saja cari di situs porno. Disini lebih banyak membahas mengenai hubungan orang melakukan perselingkuhan dan kebutuhan seksual.

Sembilan puluh persen pria berkeluarga di Amerika pernah berselingkuh secara verbal yang mengarah sampai non-verbal. Dari tingkat paling ringan atau sekedar colek-colek cium babysitternya aja sampai yang paling berat seperti Bill Clinton dan Monica Lewinsky (yeah Bill, we know the truth). Statistik yang tidak mudah dipercayai. Kita boleh bersyukur karena saya belum menemukan data berapa persen pria di

Indonesia

yang berselingkuh terhadap istri mereka, dengan begitu kita tidak perlu tahu kenyataan pahit yang sebenarnya terjadi sekarang (atau, ada yang boleh memberi tahukan saya, kalau ada yang tahu?). Itu pun harus dipilih-pilih lagi, antara selingkuh dan selingkuh yang dilegalkan A.K.A poligami.

            Banyak orang yang menjadi apatis tentang cinta, karena toh bilang cinta tapi akhirnya selingkuh juga. Benarkah itu cinta? Ataukah hanya sekedar insting dasar (id) binatang yang ada di setiap manusia? Kebutuhan seks dan libido yang harus dipenuhi, ketika sedang “pasang”. Cukup menjijikan kalau kita bayangkan, tapi cukup mudah dimengerti kalau kita berani mengakui bahwa dalam malam-malam sebelum tidur orang sering melakukan fantasi perihal keinginan berbuat seks. Atau mungkin para pria mengalami yang disebut “mimpi basah”.

            Kebutuhan seks itu harus diakui memang ada, tapi semakin panjang proses institusi pembentukan karakter dan pendidikan moral yang diterima dan dinternalisasi dalam tubuh manusia, maka kebutuhan tersebut dapat dibendung. Dalam suatu artikel yang ditulis Ayu Utami, ia mengatakan bahwa kebutuhan pemenuhan libido tersebut bisa “dol” atas sebab-sebab tertentu, tapi yang terutama adalah ketika kita mabuk. Dengan kemampuan alkohol yang mampu mengacaukan otak dengan psikotropika, kebutuhan seks itu menjadi tidak terbendung dan dapat tersalurkan secara random. Bisa kepada siapa saja yang ada di sekitar kita. Selain itu, alkohol juga membuat seseorang menjadi lebih buas dibanding prilaku normalnya. Ia dapat mengatakan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, atau hal-hal yang pernah ia bayangkan dalam fantasi terliarnya.

            Perselingkuhan diawali juga dengan hilangnya akal sehat seseorang bersumber dari ketidakpuasan. Ketidakpuasan atas pasangan, ketidakpuasan atas dirinya sendiri. Ketidakpuasan pun menghasilkan zat yang mengacaukan sistem moral dalam otak kecil kita. Awalnya mungkin cuma main-main saja, tapi kepuasan yang menimbulkan penawar bagi ketidakpuasan itu pun menjadi-jadi dan akhirnya seseorang pun ketagihan. Hal ini bisa dibilang manusiawi, kalau memang kita punya asumsi kalau manusia itu hewani. Menurut saya sebagai seseorang yang bermoral, perselingkuhan itu tidak bisa ditolerir dan tidak manusiawi. Perselingkuhan hanya merupakan rasionalisasi dari keinginan seks mendalam yang diajukan dalam perbuatan. Rasa cinta dan suka tentu saja bisa timbul kepada pihak lain yang bukan pasangan kita, wajar. Tapi hal krusial disini adalah, apakah kita melakukan sesuatu untuk mengendalikan rasa cinta dan suka ke dalam perbuatan (baca :seks). Atau bisa juga dikatakan apakah bagi mereka seks merupakan mesin pembuat cinta (yang penting, make love?). Seks dulu baru cinta, atau cinta dulu sebelum seks? Coba tanyakan pada si tertuduh.

Memang benar kata orang, yang penting pengendalian diri. Tapi, mengertikah kita akan apa yang harus kita kendalikan? Atau kita akan terus menerus menciptakan kebohongan, kebohongan, sehingga terbiasa untuk mengendalikan kejujuran?

           There are a few good men. Well yes, I agree with that jargon, there are only a few of good men. Sisanya adalah mereka-mereka yang melakukan perselingkuhan hanya karena sedikit bisikan nakal, hembusan di tengkuk, atau melihat sesuatu yang seharusnya ditutup. Sisanya adalah idiotik yang cenderung membiarkan adrenalin mengatur otaknya. Membiarkan alasan middle age crisis melanda sistem tubuhnya, untuk mendapatkan pengampunan. Kalau memang hanya seks dan kepuasan yang dibutuhkan, kenapa sih mereka tidak melakukan masturbasi saja? Apakah belum cukup puas? Atau, apakah karena dilarang agama? Tapi, agama membenarkan poligami? Hm… persepsi yang salah akan menimbulkan kita menjadi binatang buas penghancur hati orang lain dan bukan orang yang berakhlak. Setelah dipikir-pikir, saya mengerti kenapa teman saya, si penulis blog yang sebut di awal tadi mempertanyakan : agama adalah filter dari candu seks, atau seks adalah penawar dari racun agama?

            Cukup nggak jelas juga ya tulisan saya yang ini. Saya juga tidak pernah menganggap masturbasi adalah tindakan manusiawi, karena Golden Retriever saya yang berusia 2 tahun berkelamin jantan itu melakukannya 7 kali sehari. Tapi, mungkin aja nggak sih, sebenarnya masturbasi itu bisa jadi substitusi seks kalau konsekuensi pemenuhan seks adalah perselingkuhan? Dengan hukum permintaan, secara teoritis bisa kita katakan, seandainya kebutuhan seks itu 80 , namun ”supply dalam negri” hanya sanggup memenuhi 30, kita sebenarnya tidak perlu impor 50. Masturbasi saja sebesar 50. Sama seperti usaha pemerintah mencoba mengganti bensin dengan bio-diesel. Perbanyak bio-diesel kurangi subsidi bensin. Perbanyak masturbasi kurangi perselingkuhan.

            Yang jelas buat saya, perselingkuhan dengan dalil cinta itu crap. Apalagi ketika kedua orang sudah saling memiliki cincin berukir nama masing-masing. Janji keabadian itu penting, jadi kalau belum yakin gak bisa puas selamanya dengan pasangan sih mendingan gak usah menikah. Kalau yang pacaran? Saya cuma bisa bilang dengan bijak (cuma bisa bilang karena saya sendiri sulit melakukannya), the best revenge is to live your live well. Yah, coba sajalah berprilaku seperti manusia yang baik, bukan yang kehewan-hewanan. Yang kaya gimana tuh? Kalau nggak tahu manusia yang baik kayak gimana.. cari tahu saja perilaku-perilaku hewan yang jelek itu gimana…

8 Januari 2007

17.00 WIB

PS : Okay I know Im a f**kin feminist.. but I dont f**k that much to justify that it is right.

Kebahagiaan Tidak Punya Solusi

Thursday, January 4th, 2007

Kebahagiaan tidak punya corner solution… Kebahagiaan tidak punya solusi yang memojokkan dan membatasi ruang geraknya. Kebahagiaan itu adalah sebuah variabel stokastik, yang tidak dapat ditentukan, yang diambil dari bundel acak, yang penuh misteri, dalam satuan waktu yang infinite, tidak terbatas…misteri, sampai kau mati, dalam arti dikubur dan tidak bangun lagi. Bahkan saat koma pun kau bisa bahagia (karena koma bukan titik), bahkan saat mati suri pun kau mungkin tersenyum dalam pencarianmu menuju jasad.. Selama kau belum di alam lain, kau masih bisa bahagia.

Kebahagiaan itu adalah variabel komparatif tapi mutually exclusive. Dapat selalu kau bandingkan secara transitif, terkadang kau lebih bahagia dengan si cinta, si sayang, ataupun si doi, dibandingkan dengan si musuh, si pendiam, dan si kuper. Tapi kebahagiaan itu adalah titik-titik dalam hidup, ruang dan waktu yang tidak bisa dimodelkan. Tidak bisa dilihat hubungannya secara statistik bahwa kau tidak bahagia dengan si kuper, si pendiam, atau si musuh. Karena kebahagiaan tidak punya pojok, tidak punya sudut pandang, melainkan suatu lingkaran  yang mencakup semua segi kehidupan, seperti bumi yang bulat, dan mencakup triliun atom pembentuk kalsium.

Kebahagiaan tidak dapat kau batasi, atau kau buat estimasinya. Behavior is invisible. Dengan model Computable General Equilibrium (model ekonomi yang mengukur behavior atau kelakuan random) sekalipun. Tidak dapat kau bilang, ”aku senang, tapi tidak bahagia.” Tahu darimana kau kebahagiaan tidak ada dalam satu sudut pun senyum yang masih bisa kaupaksakan, walaupun dalam keadaan terjepit pun?

Kebahagiaan yang kecil, sama artinya dengan kebahagiaan yang besar. Kau tidak dapat mengatakan bahwa kebahagiaan adalah faktor endogen dari cinta, satu-satu penentunya adalah cinta. Tanpa cinta, tanpa pacarmu, tanpa ayahmu, ibumu, saudara-saudaramu, anjingmu, ikanmu, burungmu—kau tidak bahagia. Kau tidak bisa bilang kau tidak bahagia karena kau kehilangan sesuatu, karena kau tidak kehilangan apapun, dalam kebahagiaan yang tidak punya sudut untuk dicuil itu.

Kebahagiaan itu abadi ketika kau masih bisa memeluk dirimu sendiri dan mengatakan pada dirimu itu, ”kau harus tetap jatuh, untuk bisa terus bangun”. Kebahagiaan itu tidak akan sirna, sebelum dirimu benar-benar sirna, dan benar-benar hilang dari dunia, tanpa recehan kembali.

Setiap kebahagiaan itu berbeda. Ketika kau sudah merasa mendapatkan kebahagiaan yang paling tepat, saat itu lah kesalahanmu yang terbesar di dunia. Itu lah ketika kau menjadi gila dan buta, lalu mulai menginterpretasikan bahwa dirimu itu sudah jatuh cinta dan mulai tak sadarkan nyawa. Padahal, sebenarnya… ketika kau merasa bahwa kebahagiaan itu berasal dari sumber tunggal. Itulah kegilaan sebenarnya. Kau pun kehilangan harapan, masa depan, penggapaian, bintang, awan, tak ada lagi dalam dunia ini yang ingin kau raih kecuali zona kebahagiaan tertentu itu. Kandaslah semua tujuan hidup untuk selalu meloncat lebih tinggi.

Hal ini kompleks mungkin—sulit dijelaskan. Karena dirimu sendiri sulit dijelaskan. Karena sesungguhnya, memang dirimu sendiri itulah kebahagiaan itu. Kebahagiaan itu depresif, karena tak henti-hentinya menyodomi sel-sel otakmu. Hanya kesadaran dalam mendeteksi kebahagiaan itu saja yang perlu kau pahami. Kebahagiaan itu datang ketika kau memperhatikan orang lain. Lewat perhatian, kau mengeksploitasi satu ruang dalam kebahagiaan yang perlu melepaskan. Kebahagiaan itu datang ketika kau diperhatikan orang lain. Lewat perhatian, kau menerima ,dan terbukalah katup-katup dalam lingkaran kebahagiaan. Berlaku juga untuk semua benda asing lain.

Mereka membuka unsur-unsur yang sudah ada dalam dirimu,  dan melepaskan senyawa seduktif ke otakmu, dan kaupun bahagia. Benarkan, kebahagiaan itu rantai? Begitu terus, berputar-putar dan tak akan pernah habis.

Kau takkan pernah tahu kapan kebahagiaan akan musnah. Karena kebahagiaan adalah sebuah bentuk energi. Hukum alam mengatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Memang, kebahagiaan itu bukan siapapun yang ciptakan atau musnahkan. Kebahagiaan adalah wahyu yang diturunkan Tuhan ke setiap insan, sepaket dengan jiwa dan tubuhnya. Kita selalu diberkati kebahagiaan, karena itu, jangan konyol terhadap jiwa dan tubuhmu, karena percayalah, kita tidak akan tidak bahagia, selama kita masih bisa menyerap oksigen, dan melepas karbondioksida. Berbahagialah. Itu mutlak.

28 dec -06

18:05 PM