Archive for August, 2006

puisi mati kemerdekaan

Wednesday, August 30th, 2006

Menjamah waktu yang berjalan tertatih

Mendamba kepuasan di tengah keputusasaan

Merengkuh noda di dentaman beban

Melanglang kabel pikiran yang kini kusut

Pergi kemana semua kebaikan

Raib kemana pengharapan

Laksana bintang di laut laksamana

Yang kini jatuh dan meledak di pantai

Hati gontai tak ada obatnya

Hari resah tak ada yang mengesah

Haruskah hari berganti pagi dan menyambut siang

Haruskah semua berjalan bagai ledakan derai-derai atom

Kata-kata hilang

Mata-mata belang

Menampar-nampar hati yang makin sempit terbentang

Menghancur-hancurkan napas yang makin berat

Mengenggam tubuh dan melumat jiwanya

Bagaikan raksasa penghancur kehidupan

Konon bumi itu indah

Hanya suatu saat akan berpijar hancur

Konon hidup manusia itu sempurna

Hanya suatu saat kematian akan datang lebih cepat daripada jenasah

Ya, berulang-ulang kali bahkan

Kita ini mati suri terus-terusan

Merdeka!17th Agust

PS: Ada apa dengan hari-hari besar Indonesia?

Gak hari pahlawan gak tujuhbelasan, selalu merupakan saat-saat terburuk buat kalbu.

am i wry?

Wednesday, August 30th, 2006

Ada yang aneh dengan hidup ini. Kita ingin kembali di saat2 yang indah, dan ingin membuang saat2 buruk. Kita menyia-nyiakan seseorang di satu waktu, tapi ketika mengingat keindahannya, kita merindukannya dan ingin mengucap beribu maaf baginya. Tapi ketika kita sadar.. selalu dan selalu.. kita terlambat.

Kenapa saat yang berlalu cepat justru kita hargai dibanding proses panjang saat kita terpuruk? Mengapa keindahan justru tak datang saat kita semua merasa kesulitan. Saat hari merajut malam dan kita mulai merajuk kenangan dan fatamorgana…

Mengapa pikiran budi ini tak bisa berpikir dua? Tidak seperti computer yang melakukan dua tugas sekaligus pada satu waktu.. Kenapa manusia tidak dapat berpikir panjang? Kenapa otak kita begitu mie instant? Sekali sedu, langsung jadi satu keputusan. Yang kadang itu kita sesali. Yang kadang kita tangisi. Dan kita pun sadar bahwa kita lamban, dalam menerima impuls kehangatan. Bahwa dalam setiap hal buruk yang kita ingat, terusik oleh manisnya impian dan harapan akan kebaikan. Bahwa dalam setiap kemarahan yang kita hirup, ada pelajaran yang kita hidupi.

Jangan ambil keputusan. Terlalu cepat, kawan. Pikiran kita ini begitu minimal sehingga tak kuat menampung begitu banyak kilobyte,,, Mungkin kita pemikir yang hebat, mungkin kita penuh kebijakan.. tapi sudahkan hati ambil bagian, pantaskah emosi di masukkan , hingga kita begitu reaktif atas semua impuls di kala kenangan buruk itu terulang.

Hati-hati pada setan.. Ia selalu ada dalam tiap kata yang hendak terucap dan diucap. Akan  menjelekkan seseorang, atau menyakiti hati orang. Dan sedihnya itu selalu kita lakukan berulang-ulang bahkan.

Saya harus apa untuk membuat dunia ini terbalik? Bolehkah saya lihat masa depan dulu baru mengambil keputusan? Bolehkah masa lalu tidak perlu menyisip dalam saraf-saraf ingatan?

Bolehkah  setelah mengetok palu seorang hakim membatalkan pagu nya?

Terlalu banyak pertanyaan hari ini, kawan.

Janganlah mengingat apa yang sudah berbau basi.

Am I doing right?

17th August 2006