Hidup ini Terlalu Santai
Friday, June 16th, 2006Pernah sakit digigit anjing? Pernah jatuh dari bus kota? Pernah kecolongan di kereta api? Rasanya semua penderitaan yang pernah kita rasakan, yang terburuk sekalipun, adalah tiada tandingnya terhadap apa yang terjadi akhir-akhir ini, di Indonesia. Saya baru saja pulang dari sebuah pelarian singkat ke negri seberang, Tibet dan Cina. Pelarian menuju inspirasi spiritual, di dalam hari-hari libur UI yang hanya sekejap saja itu. Tenang dan merasa seimbang di setiap pijakan di negri lain, tetapi begitu kembali saya tidak kuasa menahan semua berita yang ada di media.
Ba’asyir dilepaskan. Saya kira tidak ada kondisi yang lebih buruk. Saya tahu berita ini dari Coverage CNN yang diputar tiga kali sehari di setiap TV di hotel-hotel di Tibet dan Cina. Ternyata ketika sampailah saya di depan TV ruang keluarga di rumah, kondisi yang mengerikan, yang hampir tidak terbayangkan, bisa juga terjadi. Dari hal-hal kecil seperti Hughes yang melepaskan sorbannya, Ivan Gunawan sekarang berkumis, sampai ada orang yang mati terpanggang 700C di dalam ruangan yang seharusnya memberi mereka pengharapan, dan tentu saja, pencemaran banjir lumpur di Sidoarjo akibat PT Lapindo. Hitung-hitung lagi berapa lama saya meninggalkan Indonesia,, mungkin paling lama 12 hari. Benarkah? Rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Semakin sedih dan semakin suram rasanya.
Enam tahun yang lalu, ayah saya berkunjung ke Cina. Dulu, di Beijing semua orang masih memakai sepeda kemana-mana. Rumah-rumah mereka pun berdempet-dempat tidak keruan karena kebanyakan manusia. Belum ada pembangunan apa-apa, dan boro-boro ada jalan raya di kota-kota kecil Tibet. Enam tahun kemudian, entah apa namanya. Keajaiban? Atau kebijaksanaan? Pembangunan di seluruh negri Chung Kuo itu tiada duanya. Intensifikasi infrastruktur bagaikan muncul begitu saja dari permukaan bumi. Semua orang sekarang memakai sepeda listrik, mobil built-up ramah lingkungan dimana-mana. Bahkan di kota paling terpencil di Tibet pun dibangun berderet-deret apartmen. Sungguh rapi dan teratur. Semuanya hanya dalam enam tahun.
Jadi sebenarnya, harapan untuk pembangunan itu ada. Kita berpikir kemajuan untuk Indonesia akan tercapai 10 tahun, 20 tahun lagi? Hah, kuno! Sebenarnya bisa saja kita bergerak cepat ke depan dan bukan ke belakang seperti yang terjadi sekarang ini. Hanya saja, tidak ada yang berani memulai. Tidak ada yang mengerti, harus mulai darimana. Yah tentu saja, kadang-kadang kalau kamar kita berantakan pun, kita cenderung tidur, karena pusing tidak tahu harus menatanya bagaimana. Kalau saya, begitu bangun tidur, biasanya saya mulai dari membersihkannya dulu. Bersihkan semua kekotoran yang ada dan bekerja keras untuk mencari sumber kekotoran itu sehingga tidak akan tercemar di spot yang sama. Huh, anak muda, hidup ini terlalu santai di Indonesia. Terlalu banyak berdiam diri. Bagaimana menurutmu? Apa sih yang harus benar-benar kita lakukan?
16th June 2006