Mengapa Artis Indonesia Lebih Disayang Dibanding Pemerintah Indonesia?
Akhir-akhir ini memang sulit menentukan siapa yang sayang siapa. Alam saja sudah tidak bersahabat dengan Indonesia, lihat saja, apa yang telah diperbuat alam di Aceh, di Jawa Timur, sampai Tangerang dan Kali Pesanggrhan sekalipun. Tapi kemudian kita harus membedakan lagi, manakah yang amukan ibu pertiwi, mana yang human error dan moral hazard.. Setelah semua itu, yang paling mengejutkan adalah tindakan pembetulan yang kembali menstabilkan mental rakyat Indonesia bukan berasal dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah dipercayakan rakyat, melainkan dari para selebriti.
Entah memang untuk suatu hal yang bisa digosipi kemudian, atau demi kelokkan moral mereka sendiri, artis-artis itu selalu menggelar konser amal setelah terjadinya suatu kejadian yang tidak mengenakkan, hasilnya selalu tersalur dengan rapi langsung ke tangan korban, tanpa adanya tangan-tangan kotor birokrasi yang menghambatnya. Entahlah, tidak untuk menjadi menghakimi disini, tapi mengapa rasanya kita tidak pernah percaya pada DAU, DAK, dan dana-dana bantuan umum lain. Bila sempat dituliskan di APBN sebesar Rp 1 milyar, apakah sampai dengan selamat sampai di tempat tujuan.
Padahal pemerintah dan selebriti bisa dikatakan setali tiga uang. Pekerjaan mereka sama-sama mendapatkan gaji dari ”menghibur” masyarakat secara umum, sama-sama disorot dan setiap tindakan mereka selalu dinilai dan dikomentari media. Artinya, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk dikenal dan disayang oleh masyarakat umum, lebih daripada kesempatan saya dan Anda.. Kenapa pada akhirnya Peterpan, Dewi Sandra dan Glenn, lebih didengarkan dibanding, Sutiyoso, misalnya? Kenapa kita lebih hapal lirik lagu SamSonS dibanding apa yang dikatakan SBY tanggal 16 Agustus tahun lalu? Kenapa sih, kita begitu tidak pedulinya dengan pejabat-pejabat itu, padahal mereka sangat bertanggungjawab atas kelangsungan hidup kita, atas hak-hak kita, atas segala apapun yang akan kita perbuat di atas tanah ”mereka” ini?
Sikap apatis yang mendarah daging ini kemungkinan besar tersembur dari sinisme dan pesimistis yang sudah lama kita pendam sampai-sampai tidak terasa lagi, padahal hal tersebut ada. Sebegitu buruknyakah negara ini sehingga Selasa lalu (28/03), 43 mahasiswa Papua meminta suaka politis ke Australia dan Papua Nugini? Sebegitu kejamnyakah aparat di Papua sehingga 80 mahasiswa Papua lebih memilih tinggal di hutan, dibanding rumahnya sendiri? Apa yang mereka lalukan terhadap rumah kita, rasa aman kita, kemenangan kita di tahun ’45?
Artis, mereka selalu tur keliling Indonesia. Sebuah grup band baru yang mucul Juli tahun lalu, telah melakukan 3 bulan tur dari 9 bulan ”masa hidup”nya sampai hari ini (apa yang Bapak dan Ibu lakukan dalam 9 bulan masa jabatan Anda?). Mereka benar-benar menjangkau tempat-tempat paling kecil, yang kadang tidak didaftarkan di rencana anggaran tahunan pemerintah, mereka datangi juga, sampai akhirnya mereka juga berhasil menduduki tempat yang paling sulit untuk didatangi; hati masyarakat umum. Mereka membalas jika kita melambai, mereka diam saja jika kita jambak, kita cium, kita gosipkan. Sementara pak pejabat pasti akan memenjarakan kita dengan berbagai cara kalau saja kita gosipkan.
Seandainya saja, para pejabat bekerja sekeras artis Indonesia bekerja keras mempersiapkan konser, mungkin Indonesia akan lebih bahagia. Seandainya saja, para pejabat mengadakan kunjungan ke daerah-daerah serajin artis melakukan tur keliling Indonesia, mungkin kita tidak akan sejahat ini menilai pemerintah kita. Toh kita juga bayar tiket untuk melihat pertunjukkan mereka yang seharusnya mengangkat kita melalui masa-masa sulit ini, dalam bentuk pajak. Jadi, kapan show nya , Pak, Bu? Saya sudah beli tiket VIP lho…
(29 mar -06)