Archive for April, 2006

Menyadari Cinta

Thursday, April 6th, 2006

Sanchai_and_daoSaya tidak mudah jatuh cinta. Tapi saya mudah tahu, ketika saya sedang jatuh cinta. Ada bedanya, kan? Cinta itu proses. Panjang. Melelahkan, tapi sungguh, tidak pernah membosankan. Cinta itu tidak dibuat, karena itu namanya make love. Cinta itu ada, ya… karena memang sudah ada dari sananya. Bentuknya bukan benih yang akan bertumbuh. Bentuknya bukan harta karun yang menunggu ditemukan. Cinta hanya akan ada karena sebuah ruang kosong yang ada di angkasa itu tiba-tiba menggumpalkan semua kotoran-kotoran dan bebatuan kecil yang ada, sehingga akhirnya memadat menjadi sebuah galaksi. Menjadi bintang. Menjadi planet. Memapat. Menjadi bumi. Menjadi hidup. Menjadi keabadian.

            Discovering love. Adalah sebuah pertanyaan yang tidak akan pernah ada jawabnya selayak ketika ada yang bertanya, “Siapakah Tuhan?”. Cinta itu memang tidak untuk ditemukan. Tidak untuk dipahami. Karena cinta itu bukan misteri. Cinta itu butiran pasir yang dihembus angin gurun. Lalu butiran pasir itu akan kembali menumpuk menjadi gundukan-gundukan kelembutan yang memang sudah berada di sana. Yang sudah diinjak-injak, dilempar-lempar, diacuhkan. Tapi sebenarnya sangat ada.

            Pemikiran tertulis ini setidaknya untuk beberapa sarapan dan makan malam—karena semuanya akan kita lupakan saat makan siang. Bahwa cinta itu sungguh sungguh ADA. Dan bagi orang yang belum dapat mendefinisikan cinta, berburuk sangkalah pada diri Anda untuk tidak melihat sesuatu yang begitu jelas di hadapan jiwa, di antara tulang rusuk belakang dan otak besar. Semuanya begitu jelas. Dan kebutaan yang Anda alami amatlah parah. Anda membutuhkan lebih dari sekedar pengobatan laser. Anda merasakan hidup, tapi cinta, tidak? Adakah hidup tanpa cinta? Cinta itu adalah roh yang lepas. Ia tidak butuh hidup. Hiduplah yang menungguinya.

            Bagi orang-orang yang sudah dapat mendefinisikan cinta, jangan cepat percaya. Jangan terpengaruh akan satu aksara pun. Semua itu sudah ada di dalam diri Anda, tinggal Anda menengoknya, memperhatikannya. Sungguh tidak adil jika persepsi Anda berubah orientasi hanya karena dua-tiga argumen.

            Bagi orang-orang yang mengetahui dirinya sendiri  adalah cinta, tapi goyah—kabur, tidak yakin dan pasti,……. berbahagialah. Anda adalah orang-orang yang akan diselamatkan. Love shall let you fly. Selamat bergabung dalam klub pecinta ketidakpastian cinta  yang sangat pasti. 

Oktober 2003

Mengapa Artis Indonesia Lebih Disayang Dibanding Pemerintah Indonesia?

Thursday, April 6th, 2006

Akhir-akhir ini memang sulit menentukan siapa yang P1010078sayang siapa. Alam saja sudah tidak bersahabat dengan Indonesia, lihat saja, apa yang telah diperbuat alam di Aceh, di Jawa Timur, sampai Tangerang dan Kali Pesanggrhan sekalipun. Tapi kemudian kita harus membedakan lagi, manakah yang amukan ibu pertiwi, mana yang human error dan moral hazard.. Setelah semua itu, yang paling mengejutkan adalah tindakan pembetulan yang kembali menstabilkan mental rakyat Indonesia bukan berasal dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah dipercayakan rakyat, melainkan dari para selebriti.

            Entah memang untuk suatu hal yang bisa digosipi kemudian, atau demi kelokkan moral mereka sendiri, artis-artis itu selalu menggelar konser amal setelah terjadinya suatu kejadian yang tidak mengenakkan, hasilnya selalu tersalur dengan rapi langsung ke tangan korban, tanpa adanya tangan-tangan kotor birokrasi yang menghambatnya. Entahlah, tidak untuk menjadi menghakimi disini, tapi mengapa rasanya kita tidak pernah percaya pada DAU, DAK, dan dana-dana bantuan umum lain. Bila sempat dituliskan di APBN sebesar Rp 1 milyar, apakah sampai dengan selamat sampai di tempat tujuan.

            Padahal pemerintah dan selebriti bisa dikatakan setali tiga uang. Pekerjaan mereka  sama-sama mendapatkan gaji dari ”menghibur” masyarakat secara umum, sama-sama disorot dan setiap tindakan mereka selalu dinilai dan dikomentari media. Artinya, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk dikenal dan disayang oleh masyarakat umum, lebih daripada kesempatan saya dan Anda.. Kenapa pada akhirnya Peterpan, Dewi Sandra dan Glenn, lebih didengarkan dibanding, Sutiyoso, misalnya? Kenapa kita lebih hapal lirik lagu SamSonS dibanding apa yang dikatakan SBY tanggal 16 Agustus tahun lalu? Kenapa sih, kita begitu tidak pedulinya dengan pejabat-pejabat itu, padahal mereka sangat bertanggungjawab atas kelangsungan hidup kita, atas hak-hak kita, atas segala apapun yang akan kita perbuat di atas tanah ”mereka” ini?

            Sikap apatis yang mendarah daging ini kemungkinan besar tersembur dari sinisme dan pesimistis yang sudah lama kita pendam sampai-sampai tidak terasa lagi, padahal hal tersebut ada. Sebegitu buruknyakah negara ini sehingga Selasa lalu (28/03), 43 mahasiswa Papua meminta suaka politis ke Australia dan Papua Nugini? Sebegitu kejamnyakah aparat di Papua sehingga 80 mahasiswa Papua lebih memilih tinggal di hutan, dibanding rumahnya sendiri? Apa yang mereka lalukan terhadap rumah kita, rasa aman kita, kemenangan kita di tahun ’45?

            Artis, mereka selalu tur keliling Indonesia. Sebuah grup band baru yang mucul Juli tahun lalu, telah melakukan 3 bulan tur dari 9 bulan ”masa hidup”nya sampai hari ini (apa yang Bapak dan Ibu lakukan dalam 9 bulan masa jabatan Anda?). Mereka benar-benar menjangkau tempat-tempat paling kecil, yang kadang tidak didaftarkan di rencana anggaran tahunan pemerintah, mereka datangi juga, sampai akhirnya mereka juga berhasil menduduki tempat yang paling sulit untuk didatangi; hati masyarakat umum. Mereka membalas jika kita melambai, mereka diam saja jika kita jambak, kita cium, kita gosipkan. Sementara pak pejabat pasti akan memenjarakan kita dengan berbagai cara kalau saja kita gosipkan.

            Seandainya saja, para pejabat bekerja sekeras artis Indonesia bekerja keras mempersiapkan konser, mungkin Indonesia akan lebih bahagia. Seandainya saja, para pejabat mengadakan kunjungan ke daerah-daerah serajin artis melakukan tur keliling Indonesia, mungkin kita tidak akan sejahat ini menilai pemerintah kita. Toh kita juga bayar tiket untuk melihat pertunjukkan mereka yang seharusnya mengangkat kita melalui masa-masa sulit ini, dalam bentuk pajak. Jadi, kapan show nya , Pak, Bu? Saya sudah beli tiket VIP lho…

(29 mar -06)