Saturday, March 18th, 2006
Agama Pohon Asem
Di dalam ketakutan yang luar biasa, Ia hadir…
Di dalam pencarian diam, Ia berkata…
Di dalam doa, Ia ADA..
Di tiap nafas, Ia mengisi dengan hidupNya…
Saya lahir dari keluarga Katolik. Nenek saya menyekolahkan semua anak laki-lakinya di Seminari. Sayang, yang berhasil hanya satu dari sembilan. Tentunya itu juga bukan ayah saya. Entah kenapa, justru anak-anak Eyang yang lain, yang tidak jebol Seminari itu malah menjadi orang-orang yang paling malas ke Gereja. Paling hanya pada saat Natal, dan kalau sempat pada saat Paskah. Dari kecil, saya pun secara tidak sengaja selalu didaftarkan dalam “seminari-seminari mungil”. Dari TK sampai SMU selalu saja sekolah Katolik. Perhatikan saja nama saya : Christa. Artinya, “Pengikut Kristus”. Padahal, kapan saya ditanya apa mau jadi pengikut Kristus atau tidak? Kapan saya menolak menjadi pengikut Buddha Gautama, Sang Hyang Widi, ataupun Muhammad sekalipun? Ketika masih pakai Pampers dan berlarian di halaman, saya masih terima. Waktu seragam sekolah menjadi merah-putih dan biru tua-putih pun, saya masih ayok ayok aja. Tapi makin lama, saya mulai mengenal buku-buku lain selain Alkitab. Buku Kimia, buku Fisika, Sejarah, Matematika. Sampailah saya pada puncak penolakan. Pemikiran awal yang membuahkan klimaks Iman sebagai pertanyaan. Bukannya sepanjang jalan di “seminari-seminari mungil” itu saya tidak mendengar keajaiban Tuhan. Tentu saja ada. Ketika Ayke(nama samaran) tidak berusaha menyilet-nyilet tubuhnya lagi setelah mendengar pelajaran Agama, ketika Royke(nama samaran) tidak frustasi lagi setelah gagal naik kelas. Ketika Kristine(nama samaran) tidak lagi kecewa akan kegagalan cintanya. Semua itu, karena adanya rasa percaya mereka akan adanya sesuatu yang indah, katanya. Yang menyambut mereka layaknya embun pukul empat pagi. Yang seterang matahari ketika hendak mencari jarum di tumpukkan jerami. Keajaiban itu ada. Tapi tidak pernah pada saya. Saya masih ke Gereja, kok, di hari Minggu. Tapi di kala misa, saya selalu menguap. Di kala paduan suara menyanyi, saya membaca mantra. Di kala Sang Pastor berhomili, pikiran saya berlari-lari. Tapi di kala semua orang berdoa. Saya paling lama. Saya jadi sering bertanya-tanya, seandainya ke Gereja tidak perlu pakai aturan-aturan dan doa-doa yang dihapal, pasti saya lebih betah. Seandainya itu cuma soal curhat sama Yang Di atas.. pasti saya datang terus. Tapi tahukah Anda, kalau kadang-kadang ekuilibrium justru terjadi saat kita berhenti memusingkan segala sesuatunya? Tahukah Anda, kalau ekuilibrium justru terjadi, saat kita percaya bahwa kondisinya adalah ceteris paribus? Tahukah Anda, malu bertanya sesat di jalan, dan kebanyakan bertanya justru makin sesat di jalan? Itulah kesimpulan saya. Setelah berbagai buku, film, dan pengalaman yang selalu membuat saya bertanya-tanya, akhirnya saya hanya jatuh di kedua lutut saya dan menyatukan jari jemari. Di saat lelah, saya bisa merasakan karuniaNya. Di saat saya betul-betul diam, Ia berbisik dari dalam hati. Di saat saya tidak percaya, Ia mempercayai saya sepenuhnya. Lewat ketenangan yang didapatkan tanpa dopping, Ia berkarya. Lewat kekuatan yang dihadirkan tanpa vitamin, Ia memberi. Lewat pengorbanan seorang sahabat, lewat cinta seorang kekasih, lewat perhatian orang tua, Ia hadir, dan bekerja dalam cara yang misterius. Layaknya bayangan-bayangan putih yang terlihat di layar kaca Anda pada reality show macam “Dunia Lain”, begitu pulalah keajaiban Tuhan ada. Tinggal bagaimana membuka mata hati layaknya Ari Panca untuk melihat semua kegaiban itu. Boleh percaya, boleh tidak. Tapi pengalaman dan pengertian saya di atas yang terdengar baik itu bukan berarti membuat saya jadi seorang Katolik yang diharapkan Nenek saya. Saya tetap menguap di Gereja, tapi setidaknya saya mengerti bahwa semua aturan dalam misa Ekaristi itu terjadi karena hal itu….. indah. Nyanyian-nyanyian surgawi, doa-doa yang berima, pidato pembangkit semangat. Mungkin memang layak. Jadi, bukan masalah besar, sekarang saya Katolik, atau sekarang saya Islam. Agama itu hanya sekedar alat. Aksesoris yang indah. Inti yang sesungguhnya adalah kehadiran Tuhan di setiap kepercayaan. Di dalam ketakutan yang luar biasa, di dalam doa, di pencarian akan diam, dan di tiap nafas. Dan kalaupun nanti saya tambah besar dan makin bingung, sampai-sampai pindah agama, tidak ada yang akan lebih saya cintai selain Yesus Kristus. Karena cuma Ia yang mau berkorban demi kita, cuma Ia yang lebih menakjubkan dari Einstein karena menciptakan rumus hukum cinta kasih yang tak perlu dipertanyakan. Kasihilah sesamamu dan Tuhan Allahmu seperti kau mengasihi dirimu sendiri. Mana ada ajaran semulia itu. Ada sebuah buku yang sangat saya suka. Tentang perumpamaan pohon asem. Pohon itu kurus tapi kokoh, berdiri di luar jendela rumah. Dipelihara bukan demi kepentingan pemiliknya, untuk nanti dibangga-banggakan bunganya, bukan dibonsai untuk dipamerkan. Biasa-biasa saja. Namun pohon itu dipelihara alam, yang kadang hujan dan kadang terik. Tampak subur, bebas dihinggapi burung-burung Gereja dan terlihat begitu bahagia dengan daun rimbunnya. Itulah agama saya.