Difference Go Beyond, Emphaty Go Under

June 3rd, 2008 by xxxta

Setelah penelitian lebih lanjut yang terus dilakukan oleh
Prof. Christa Sabathaly, ternyata fungsi dari suatu hubungan adalah saling
mempelajari satu sama lain. Bukan masalah siapa yang bisa lebih menyenangkan
siapa, siapa yang mencintai siapa. Tapi, apa yang bisa kita ambil dari tiap
kejadian?

 

Memahami bahwa tiap orang dibuat unik adalah ilmu yang silit
dipraktekkan (yah silit, setingkat lebih susah dari sulit). Bahkan, ilmu
tercanggih berjudul “empati” mengajarkan kita untuk bisa membayangkan diri
berdiri di “atas” sepatu orang lain.

 

Lalu, apakah namanya ilmu yang sejatinya mengajarkan kita
untuk memakai sepatu berbagai bentuk dan ukuran, dengan bentuk dan ukuran kaki
kita yang fixed?

 

Kemarin itu saya
membeli sepatu abu-abu yang sangat seksi. Sayang, saya khilaf dan membeli
ukuran 35 (padahal ukuran saya di poin kaki paling mengkerut saja 36,5). Sampai
di rumah, ketika sepatu itu hendak saya kenakan pori-pori kaki saya langsung
kesakitan, ”SEMmmppiiiiiiit, ” jerit mereka. Alhasil, saya berhasil memakai
sepatu itu sekali ke gereja. Tapi, sumpah, gak lagi-lagi deh.

 

Hm.. jadi, adakah
ilmu yang akan membuat kita mampu memakai berbagai ukuran sepatu dan bentuk?
Yang walaupun sakit tetap bisa kita kenakan berulang-ulang??

Laiknya
sepatu-sepatu dalam cerita itu, ternyata manusia juga begitu.

Ketika kita sudah
jatuh cinta pada sebuah model sepatu, tetapi tidak ada ukuran kita. Apa yang
harus kita perbuat?

 

Apakha mungkin
kita mengorbankan buku-buku jari lecet, asal kita dapat memiliki sepatu
tersebut?

Atau kita
lepaskan saja cinta pada sepatu itu dan mencari sepatu lain? Siapa yang
sebenarnya menyesuaikan? Kakinya? Atau sepatunya?

Walaupun dalam
”feng shoes” dikatakan bahwa: jika ada sepatu cantik yang amat kau suka dan
warnanya cocok denganmu, jangan beli if it
doesnt have your size.

 

But I say, if you like
it, then, take it! Or should I say, if you like him, fight for him!

 

Dalam kasus antara sepatu atau kaki, yang musti menyesuaikan
diri, buat saya adalah yang mana yang bisa berubah? Ya, kaki nya lah!

 

Perubahan itu
diawali dengan saling mengerti dan menerima. Resep klasik sederhana. Jika kita
terus melirik ke masa lalu dan berkata
”kenapa sih dia berubah, lihat deh, dulu SMS-SMSnya seperti ini…”

Percayalah, kita
tidak akan menemukan pengertian pada masa lalu yang lebih baik. Pengertian itu
justru timbul jika kita ingat masa-masa yang lebih buruk, lebih sakit, sehingga
akhirnya kita temukan pangkal dari rasa penerimaan, yaitu: syukur.

 

Jika kita terus
menjadi seorang pembanding, boleh percaya atau tidak, tetapi relativitas itu
relatif! Setiap perbandingan punya kelemahan asumsi, tiap dua celah yang
berbeda tidak bisa dianggap ceteris
paribus
. Jadi, coretlah dalam benak Anda bahwa jika seseorang tidak
melakukan repetisi pada reaksinya, hal itu karena keadaan yang dihadapi
sekarang adalah keadaan yang jauh berbeda.

 

Seperti kata King Aslan di “Narnia :Prince Caspia”, ”Two
incidents won’t happen the same way twice

 

 

Di suatu restoran, ketika sedang memandangi menu, kita juga
pasti akan berpikir. Hari ini, apa yang akan saya makan? Sesuatu yang sudah
biasa saya makan setiap hari, sesuatu yang baru sama sekali, atau sesuatu yang
merupakan favorit saya (ini biasanya mahal).

 

Memilih orang-orang yang menjadi pasangan hidup kita, pun
terkadang seperti itu.

Ada

orang
yang lebih nyaman dengan jenis makanan yang sudah BIASA dia cerna.

Ada

yang memilih sesuatu yang benar-benar baru, dan ada yang berani membayar lebih
mahal untuk sesuatu yang memang amat disukainya. Pilihan-pilihan tersebut tidak
ada yang salah. Hanya sekali lagi kita harus ingat bahwa apa yang ada dalam
menu adalah suatu persepsi, belum tentu eksekusi.

 

Buat orang-orang yang memilih sesuatu yang jadi kebiasaaan
mereka, misalnya. Apa ia yakin makanan tersebut juga akan ‘disajikan’ seperti
biasa? Oleh koki yang sama, metode pemasakan seperti standar tertera? Apakah
rasanya akan benar-benar sama seperti rasa yang ia bayangkan?

Seseorang yang memilih hal-hal baru dan hal-hal yang paling
disukainya, biasanya punya kesiapan untuk membayar lebih. Bayaran ini dalam
bentuk pengalaman baru yang harus ditelah baik itu baik maupun buruk, ataupun
bayaran mahal dalam arti usaha yang ekstra sebelum mendapatkan hal tersebut.

 

Memilih untuk kembali dengan mantan, yang sudah Anda kenal
karakter luar dalamnya. Atau memilih orang baru, si asing sempurna? Memilih
seseorang yang Anda puja, tapi what the
F…
dia sangat hard to get!

 

Jatu kemanapun pilihan Anda, jangan terlalu yakin dulu yang
satu lebih baik daripada yang lain. Memilih, menjatuhkan pilihan pada salah
satu dan mengabaikan dua substitusi lainnya adalah kata lain dari konsekuensi. Ketika hal tersebut datang,
kita harus selalu siap untuk :berusaha!

 

Mengerahkan tenaga pada hal-hal tidak terduga, atau hal-hal
mudah diduga yang ternyata meleset. Bukan pada apa yang kita pilih, bukan pada apa yang TIDAK kita pilih. Tapi,
bagaimana kita belajar mengambil dan menjalani keputusan.

Setiap pilihan
ada jalannya masing-masing dan yang penting adalah kita belajar untuk melihat
ke depan, bukan ke belakang. Mencintai tiap langkah pada jalan yang kita ambil
adalah kunci. Pintunya adalah kebahagiaan. Buka pintu dengan kunci.

 

Silit mungkin,
melangkah dengan sepatu kekecilan, atau sepatu kebesaran. Tapi, kala kita sudah
mencintai sepatu itu, kita mau mencoba mengerti, membuka hati, maka rasa sakit
itu pun jadi normal.

Lelah mungkin
menjalani langkah dengan rasa sakit. Tapi jika kita terus berjalan, lelah itu
hilang dan berganti kenyamanan. Daripada gak jadi sepatu? Bukannya lebih
berbahaya?

 

Lebih baik lagi,
jika kita sudah benar-benar mengerti bentuk kaki dan ukuran sepatu kita, lain
kali, pilihan kita akan jatuh kebetulan pada sepatu yang tepat. Ukuranya pas,
bentuk yang cantik. Tanpa pikir panjang, secara otomatis kita tahu, apa yang
terbaik untuk kita dan akhirnya semua jadi effortless.
Lihat, semua ini sebenarnya tentang belajar kan?

Belajar menerima
perbedaan, karena perbedaan itu eksis…

..dan memiliki
empati hanyalah sebuah simplifikasi.

While difference go
beyond that.

 

 

 

Tinggalkan Dia

June 3rd, 2008 by xxxta

Jika kepalamu berpikir kau mencintai
seseorang, tapi ada bimbang yang kau timbang di selipan angin yang berhembus di
saraf nadimu.. Berhentilah berpikir bahwa kau mencintainya. Mulailah cintai dia
tanpa syarat, tanpa substitusi, dan tanpa pendapat orang lain yang kau serap.

 

Atau, tinggalkanlah dia. Jangan
sakiti dia lagi, karena apa yang kau pikir cinta itu hanya ada dalam fantasimu,
sementara kau terus-terusan berputar dalam kegilaan, bisikan-bisikan psikis
yang menantang logikamu. Kemudian sebuah suara yang sangat hening bergeming. J a n g a n.

 

Jangan coba cintai seseorang, tanpa
keseluruhan hatimu berpikir, dan seluruh otakmu merasa bahwa dialah
satu-satunya. Jangan coba cintai seseorang jika kau tidak berani menanggung
resiko dari semua beban yang akan ditagihkan ke neraca hidupmu, semua
kesalahannya yang akan divoniskan kepadamu, dan terlebih untuk semua kesempatan
yang hilang jika ia lenyap dari hadapmu. Jangan coba cintai seseorang jika
hatimu tidak cukup besar untuk menyimpan sebuah resiko besar, kanker kehidupannya
dalam seutuh kerangka darahmu.

 

Jangan coba cintai seseorang, jika kau merasa takutTinggalkan
dia
, dan pilihlah rasa takutmu. Karena selama ini tubuhmu memberikan sinyal
jelas, tapi kau tidak berani menghadapinya. Jika kau tak berani sekarang,
selamanya kau akan terpuruk di persimpangan, dan kau akan berjalan tidak ke
kiri maupun ke kanan, tapi ke tengah-tengah jurang jurusan nol kebahagiaan.
Jika kau takut kehilangan dia, tapi jika kau juga takut menjalani hubungan
dengannya. Maka tinggalkan dia. Agar kau tidak egois. Agar kau hadapi kedua
ketakutanmu dan memulai hidupmu yang baru, yang sudah paham aturan tak
terbantahkan dari ketakutan: kenyataan.
Apa yang kau lakukan pada kenyataan? Kenyataan itu kau peluk, kau sambut dengan
segenap hatimu, kau keram dalam tanganmu, kau jalani dalam setiap langkahmu,
dan kau kecup dalam setiap hembusan detik yang berayun perlahan.

 

Mungkin kau akan terhuyung-huyung, terbawa badai perang,
terjerumus ke angin topan. Tapi kau tidak akan membawanya bersamamu. Kau
melakukan yang terbaik untuknya, kau tidak menyayanginya lagi, semata-mata
hanya karena kau tidak ingin dia menderita. Kau justru melakukannya agar ia
bahagia. Kau melepaskannya bukan karena kau kejam. Tapi kau memberi ia kesempatan, untuknya untuk merasakan disayang
yang terbesar, yang tidak akan didapatkan dari dirimu yang penuh kepalsuan. Kau
merelakannya, dia akan tersakiti. Namun jika kau menahannya, kau akan
menusuknya perlahan hingga hatinya keram dan tak bisa lagi membedakan mana yang
disebut rasa sayang dan obsesif kompulsif.

 

Berikan yang terbaik, hanya kepada dia yang memberikanmu
kepercayaan diri terbaik untuk menyayanginya. Berikan yang terindah, hanya
kepada dia yang membawamu kepada keindahan yang terpanjang. Tapi tinggalkan dia
yang memberikanmu kebingungan, memberikanmu pemikiran dan penilaian, serta memberikanmu
kemunafikkan terhadap dirimu sendiri

Carilah ia, yang menjawab semua kesulitan tanpa perkataan,
memberikan ciuman tanpa pertanyaan, mengambil hatimu saat kau menyadarinya, sepenuh
logika.

 

Karena mungkin saja orang yang kau pikir kau cintai itu,
hanyalah perkah oranye di sela senja yang
luar biasa
, ketika yang akan kau dapatkan selanjutnya adalah : cahaya
magenta semua venus di semesta raya
.

  

a simple kind of life?

August 14th, 2007 by xxxta

I never get the point why that complicated Gwen Stefani ever sang, “all I want is just a simple kind, a simple kind of life..” – now I do.

All in the entire of my freakin fu*kin boring life, I was always wishing for a surprise. I was wishing for changes to occur in my life.

Now, whilst my every second was full of surprises and changing beats, I feel completely wanting to surrender.

And all I wanna say is, all I want is just, a simply kind of life.

I want a normal guy, a decent guy. Not too fancy, not too good in music, not too good in classes, not to fashionable, not that cute, not that wonderful, not that smart, and not that funny. But I want him to be normal.

I don’t want some popular guy among others, I don’t want some famous-attractive hottie to accompany me, and I don’t want him to be the one who’s beside me, all the time.

I just want a normal guy, who will stand beside me when I need him, and will not stand beside me when he can’t, because he has his own life, like he always honored mine.

I don’t need a funny guy to keep me awake all night  because with him I can smile and shine. I just need a remote lad, who can help me get through a sleepless night, and didn’t make an aggressive effort to go to bed with me.

I don’t need a hunky-funky man, to keep me horny all the time. To get me wet or felt in love all the day and night, to get me the mood to kiss and to lick, and to blow. I just need a simple gentleman, who knows when to touch, and when to keep out.

I regret to have so many conditions, on how I want to live, or how I want to be loved. Cause life is like that, and that is how you trust on other’s imperfection. It’s not about getting what you want all the time, or how much struggle you put in it, but it is being true about yourself, being honest, and being acceptance to all the wrongs you may sometimes put in the your little senses.

Yes, those little senses might be only a glimps of irreational dreams. That what you see is sometimes just not that beautiful. That perception the eye give is perhaps only what other’s may think. It’s not about he has pimples or not, it’s not about he has muscles or not, or is not even if he has 5 or 6 fingers, anymore!

Is that deception that your skin have to be touched. It’s not about that chemistry you often think it might be a strong signal of love. It’s not about intuition. It’s not about the false alarm your nose might smell, or your eyes might hear, because it’s all replicable and all often artificial.

When you finally get to the one you want, you finally get the perfect figure to suit your mood, you will suddenly collapse, because it is never be whatever in your mind might create. That a kiss is better to be illutionated than to be done, that dreams to be touch are better left as dreams, not to be finalized. There will always be something missing, in all subjects in life. There will always be something wrong, and you will always feel crippled, although you have all your happiness in front of you.

As long as you think that your life is not perfect enough, then you will never get enough. You will try and try harder, and at the end, you’ll be obsessed of what you would never get. So then your life will always be complicated and full of surprises, that is when your emotion starts to take over. That is when you keep changing your mind in every blink of an eye. That is just a point near the final exhaustion, where you will say, “let’s put an end to this wannabe life”.

As long as you stereotyped happiness, it would never show cause you fight too hard till it hurt your own. As long as you can never learn about letting go, and let loose, you will forever be tighten up, on your own modified belt called ‘pressures’.

What it is to be done is to be free from other mammals who gives you the criteria to be happy and to feel that you are loved by each other humans.

What it is to be done is affording a simple structure of hopes, dreams, and let it flush away with time like wind will always pass by in a single noon.

Be a summer breeze to cool any windows, and be a dazzling atmosphere to a dangle away doubts.

Be a normal person for everyone you met.

Don’t be too high, too low, too smart, too good. Cause you can never expect what others want, like you wouldn’t be able to filter your needs.

That’s why I want a simple kind of life, a simple kind of ways to carry on this life, with no high expectation nor target to fetch, but a normal heart to accept, whatever it is might stroke your life.

July, 29th 2007

3:00 am

Berpindah Dengan Waktu

April 11th, 2007 by xxxta

            

Ketika dalam hidupmu, kau berpindah dari titik A ke A-, itu akan membuat jalanmu juga terbanting ke jalur lambat dari jalur cepat. Seketika semuanya yang terasa amat nyaman, lancar, mudah, berpindah dan membuatmu rentan akan waktu dan irama hidupmu pun melambat.

            Kau terbingung-bingung. Apa yang harus kau lakukan untuk membunuh waktu, karena sekarang ia nampak bagaikan pasukan Persia Raya yang harus kau tebas satu per satu. Setiap kali kau pandang jam tanganmu, perhitunganmu meleset. Seakan-akan semuanya berjalan mundur.

            Kejadian buruk ini kita sebut juga dengan pergeseran dari ”comfort zone”. Ingat? Comfort Zone adalah zona dengan gravitasi terberat, karena ia selalu menarikmu ke dalamnya sehingga kau tidak lagi percaya bahwa zona semacam ini eksis ribuan di luar galaksi sana. Kejadian buruk ini membuat gerak hidupmu dalam S l o w m o t i o n  , karena gravitasi yang kau lawan luar biasa kuat massanya.

            Besaran dari gaya yang kau lawan itu, sekali lagi muncul sebagai partai oposisi, adalah sang waktu. Penjelasan dari waktu ialah segala sesuatu yang mekanis dan bergerak. Kita bayangkan sebuah benda dengan koordinat X (datar), Y (tegak), dan Z (dimensi ketiga). Jika benda tersebut diam saja pada tempatnya, kita tidak akan pernah bisa mengukur waktu yang dilalui benda tersebut. Variabel t (waktu) hanya dapat diukur ketika terjadi perpindahan koordinat lain, secara mekanis.

            Dari deskripsi di atas bisa kita sepakati bahwa waktu adalah variabel yang bergerak, bukan? Jika kita lain kali mendengar seseorang berkata ”tenanglah, waktu yang akan menyembuhkanmu”, maka dapat kita rumuskan : MANUSIA + KEJADIAN BURUK + WAKTU = sembuh. Tapi, ternyata tidak semudah itu. Varibel waktu itu dependen terhadap pergerakan. Jadi kalau kita cari derivasinya, kita akan mendapatkan rumus yang lebih konkrit, MANUSIA + KEJADIAN BURUK + BERGERAK KELUAR DARI COMFORT ZONE = sembuh.

            Pada poin ini semuanya tampak lebih padat dan nyata. Kini kita ketahui bahwa untuk mengatasi suatu kejadian buruk, kita butuh pergerakan. Kita butuh ritme baru yang dapat melawan gravitasi comfort zone yang tidak bukan adalah sumber dari semua kejadian buruk yang kita lalui. Mudahnya, kita butuh pergi ke luar sana, mencari sumber-sumber penyegaran baru, meluangkan secangkir dua cangkir kopi dengan teman baru, memperbaharui hubungan dengan teman lama, menyibukkan diri dengan isu-isu yang baru saja kita sadari, semua hal baru ini, untuk suatu comfort zone baru, lingkaran halo baru, yang membuat memiliki energi positif yang memancar dengan kekuatan ultra.

            Lalu, apa yang harus kita lakukan, jika, seperti pembahasan awal tadi dikatakan bahwa, waktu bisa menjadi siksaan lambat? Kawan, semua itu terjadi ketika kau menghitung apa saja yang telah kau lakukan seiring dengan berjalannya waktu. Dalam hidup, manusia sering menghitung berapa banyak yang telah ia capai dan bukan yang ia hilangkan. Ketika kita menghitung berapa banyak yang telah kita capai, maka kita tidak akan pernah puas, karena kita terus melihat ke langit yang tanpa batas itu. Tapi ketika kita secara sadar mengerti bahwa sebagian keburukan kita telah hilang, walaupun dengan sangat perlahan, pastinya kita akan lebih bersyukur. Idealnya, jika kita terus habiskan waktu kita untuk menaruh sebuah baris dalam CV, kapan kita akhirnya punya keberanian untuk melamar pekerjaan yang kita inginkan? Toh, selalu akan ada orang yang punya CV lebih panjang.

            Kembali ke masalah pelambatan waktu, salah satu faktor juga mungkin karena kita terlalu memusingkan hal-hal yang bukan jobdesc kita. Apakah usaha yang saya lakukan akan menghasilkan sesuatu? Apa orang ini bisa menjadi seseorang yang akhirnya bisa menggantikan dia? Kapan saya akan menemukan yang terbaik? Saya juga pernah menanyakan hal tersebut, tapi seorang teman yang sangat tak terkira menunjuk ke arah saya dan mengatakan , ”..that is not for you to answer , but God to arrange.”

            ..

            hiduplah, untuk hari ini. Jadilah hidup, di hari ini. Gunakan waktumu dengan pergerakan yang berarti, jadikan waktu sebagai sahabat dalam perpindahan untuk melawan gravitasi yang hanya akan membelurkanmu ke memori utopis. Yang terpenting : pasrah. Yakinlah Tuhan juga mahaprofesional. He’ll do His job.

2 April 2007

Poppy Sayang

April 11th, 2007 by xxxta

            Sejak kedatangan makhluk putih manis ini ke dalam hidup saya, hari-hari terasa lebih melegakan. Ia mengajarkan saya lebih mandiri, lebih berani, dan bersama dia, kita menaklukkan waktu dan jarak bersama-sama. Perjalanan Jakarta-Depok yang biasanya berat dan berisik, jadi lebih enteng dan stereo karena tarikannya lembut dan subwoovernya yang mantap. Biasanya dengar suara kaset rusak, sekarang bergeminglah suara dari MP3/WMA/CD favorit.

            Memiliki Poppy adalah kebanggaan tersendiri, selain dia sangat molek dan mulus, masih relatif baru di antara teman-teman jalanan lainnya, dia sangat mewakili sebagian besar dari apa yang terjadi dalam hidup, akhir-akhir ini.        

            Dia baret, dia penyok, dia hancur di bagian bemper fiber kiri depan. Alasannya keburu-buruan tak bertanggungjawab. Ketidakhati-hatian, yang bermuara kekecewaan. Sering dalam hidup kita berkata, “hal ini sama sekali tidak perlu terjadi.” Tapi hal itu terjadi.

            Poppy jadi tidak mulus lagi. Dia bengkok, patah, tersakiti. Akibat kegegabahan semata. Kejadiannya begitu cepat, hanya dalam beberapa detik, sedikit tarikan, lalu ia membentur beton sampah tetangga sebelah. Bam! Beton itu runtuh seiring dengan erangan Poppy yang menyebabkannya tidak perawan lagi.

            Hal ini terjadi juga dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali dalam sebuah hubungan, ada yang menyakiti dan disakiti. Kita tidak bisa menentukan yang mana duluan, karena fungsi keberadaannya yang rancu. Misalnya seperti telur dulu atau ayam atau hutan dulu baru padang pasir? Dalam konteks di atas, apakah beton sampah itu dulu yang tidak seharusnya berada di situ, ataukah hukum benturan yang membawa keduanya ke dalam kehancuran? Semuanya bisa didebatkan. Intinya, ketika suatu hubungan telah terjadi diantara dua orang atau lebih, entah dalam hubungan apapun, kemungkinan untuk saling menyakiti itu sangat hadir. Ketika kita berpikir, kenapa kita terus yang disakiti? Tahan dulu.

Napas.

Pikir lagi.

Barang sekuat beton saja bisa rubuh. Makhluk seindah Poppy bisa jadi buruk. Siapapun juga bisa tersakiti atas konsekuensi tiap eksekusi perbuatan, bukan hanya diri sendiri. Ketika kita disakiti, pasti ada sebuah hubungan timbal balik yang rumit dimana kita juga ambil bagian kausalitas dari alasan pihak lain sehingga menyakiti kita.

            Menaikki Poppy yang kini bopeng jadi tidak sebangga dulu lagi. Saya terus bertanya-tanya pada Poppy. Pop, kenapa sih kamu nggak kasi tau kalo ada barang sekeras itu di depan kamu? Seandainya 3 detik lebih awal saya tahu, pasti gak akan kayak gini jadinya. Sebanyak saya kecewa pada Poppy, semakin berkurang kebahagiaan saya untuk bersama dengan Poppy. Tapi saya bertahan, mungkin berhubung memang gak ada yang lain lagi, atau memang kita jodoh. Bagaimanapun juga, saya membutuhkan dia. Walau sekarang dia sudah jelek di mata saya.

            Anehnya, ia tetap berfungsi seperti biasa. Tarikan lembut, suara dalam mantap, siang, malam, pagi, macet, lancar, jalur lambat, jalur cepat, Bundaran HI, puteran UI.. Benar-benar senyaman biasanya. Apakah Poppy dan saya sudah berada dalam ’comfort zone’, jadi walaupun rupanya kayak apa, saya juga akan tetap mencintainya? Hal ini membuat saya sadar bahwa kadang-kadang kita memang boleh mencintai karena alasan yang salah. Kita boleh menyukai kesempurnaan, mematok harga tinggi atas segala pilihan hidup kita, memilih untuk menjadi seseorang yang sulit dipenuhi. Tapi ada saatnya, kita harus menghadapi apapun yang merintangi hal tersebut, dan membuat kita menurunkan standar dan meyakini diri bahwa hal yang paling pasti dalam hidup ini adalah ketidaksempurnaan, dan itulah yang membuat kita bergerak. Pasar selalu mencari pasar persaingan sempurna dalam setiap kebijakan yang dibuatnya, kita belajar sejak TK untuk mencari kesempurnaan hidup, kita bergerak menuju kesempurnaan, kita bergerak mencari komplementer, karena apa? Karena kita, tidak sempurna.

..

            Satu hal lagi yang membuat saya belajar dari peristiwa berdarah itu adalah belajar percaya terhadap hal-hal buruk yang saya lakukan. Apalah yang tidak menyebabkan harapan kalau bukan ketidakpercayaan? Ketika kita terus-terusan menutup mata untuk berharap hal buruk yang terjadi itu mimpi, ketika kita terus menerus menghindari ramalan bintang yang jelek dan mau percaya yang bagus-bagus aja. Kita melenyapkan harapan yang seharusnya ada. Harapan itu bergerak ke depan. Ketika tidakpercayaan menginterupsi, kita mencoba bergerak ke belakang. Alhasil, tidak ada yang kita dapatkan karena kita berusaha untuk mencegah sesuatu yang sudah terjadi. Kekuatan kita terbesar adalah ketika kita berani mengakui kelemahan kita. Sehingga ketika harapan itu timbul, dan mencangkul kita dengan perihnya, tapi membangunkan mercusuar yang kokoh sehingga kita tidak akan lepas kendali dari badai.

            Kehadiran si kecil Poppy merupakan kegembiraan tersendiri. Dia memang tidak seindah dulu. Tapi apalah keindahan itu? Walaupun nanti ada orang yang memiliki Poppy yang lebih mulus dan berbau baru, saya sudah bangga dengan punya sendiri. Kami punya kenangan, kami punya harapan, terlebih lagi saya dan dia tidak sempurna. Hal itulah yang menjadi tujuan kami hidup, dan membuat kami berusaha untuk berbuat lebih baik dan lebih hati-hati lagi.

11 april 2007

surat buat saya

April 4th, 2007 by xxxta

seorang kawan lagi, yang ternyata adalah penenun kata yang jitu. Teman diskusi pada isu-isu yang menarik, dan bergaya seno gumira aji darma. Temukan this wordwriting genious di :

http://awigra.blogspot.com

terima kasih buat suratnya,  *menghibur*. hahaha

Surat Buat Christa

Seandainya kita pernah satu kelas pada masa-masa SMA, atau pernah ambil satu mata kuliah bareng, pastinya aku akan mengajukan diri untuk memilih menjadi ‘teman sebangkumu’.

Bukan untuk memilih-milih teman atau mebeda-bedakan satu dan yang lain, yang jelas banyak unsur ketidakadilannya di sana. Tapi, aku adalah seorang penganut paham: HIDUP ADALAH PILIHAN.

Aku rasa, pengandaian di atas belumlah terlambat. Akhirnya, kita pun dipertemukan dalam satu forum…

Aku tidak tahu apakah ini sebuah kebetulan semata atau misteri. Bukan untuk terlalu membesar-besarkan makna pertemuan kita. Atau aku terlalu melankolis akhir-akhir ini. Tapi aku yakin, dalam setiap perjumpaan ada persentuhan (baca: PERSEN TUHAN). Bagiku, setiap perjumpaan adalah BERKAT-

Aku pengen tahu kamu lebih banyak. Itu saja intinya… Ketika aku menyadari, kalau kamu juga adalah ‘hadiah’ dari-NYA. Sepertinya ada yang salah saja jika aku tidak mau tahu atau membiarkan berkat perjumpaan antara kamu dan aku…..

Dari sedikit pemahamanku menyambut kamu, mungkin kamu bisa langsung menunjuk ada sesuatu yang kotradiktif. Satu soal berkat (bisa juga dimaknai sebagai misteri), dan yang lain soal pilihan.

Misteri bisa jadi dimaknai sebagai sesuatu yang tidak pernah bisa kita pahamai, dan di sisi lain, pilihan secara sederhana bisa dimaknai sebagai bentuk ungkapan sikap atas sebuah kesadaran utuh. Dua hal yang menurutku bertentangan. Satu ada unsur kebetulan dan ketdiaksengajaan dan yang lain merupakan kesengajaan….

Dalam dua tarik-menarik antara misteri dan pilihan, aku tulis email ini…

Christa, dunia bagiku memang tampil paradoks. Satu sisi dia sangatlah luas, tapi di sisi lain sempit. Seperti paradoks globalisasi. Globalisasi di satu sisi mengumpulkan orang-orang dari seluruh penjuru dunia dalam kampung, tapi di sisi lain globalisasi sungguh memisahkan, antara yang ‘miskin’ (penjual krupuk yang kita temui beberapa kali, waktu aku nebeng pulang itu…) dengan pengusaha potato, taro, dan sebagainya. Pada akhirnya yang ‘miskin’ (aku sebut miskin karena dia tidak bisa masuk dalam global village itu, entah karena tidak satu bahasa dengan para warganya,atau karena hal lain. Walaupun mereka sama-sama manusia), akan tergilas globlisasi dengan gerbong neoliberalisme-nya.

Bagiku, kamu juga bagian dari tampilan dunia yang paradoks itu. Kamu ternyata adik ipar temenku, HELEN.

Christa, selain paradoks, dunia bagiku juga tampil berwarna-warni. Tapi, seringkali aku tidak bisa mengenali warna-warna di duniaku sendiri. Kerap aku ibarat seorang buta warna. Karena, banyak sekali tampilan abu-abu (campuran hitam-putih) di depan mataku.

Di sanalah Christa, aku menginginkan kamu menjadi teman sebangkuku. Tidak sekadar menemaniku di saat aku senang dan susah. Tapi lebih dari itu, aku ingin kamu menjelaskan banyak warna-warni dunia dari sudut kelopak indah matamu….

Sekali lagi Christa, aku ingin mengetahuimu lebih banyak. Bukan untuk sekadar urusan pribadi, apalagi investigasi… Tapi, untuk urusan dunia ini. Dunia yang paradoks, warna-warni, abu-abu dan misteri. Di sana aku memilih kamu untuk membantuku (bersama dengan teman-teman lain tentu saja) melihat dan merasakan senja, fajar, terang, gelap, panas dan sejuknya dunia. Aku yakin, kamulah orangnya yang aku cari selama ini. Kenapa? Entah. Karena, aku sudah tidak tahu lagi hitam dan putih. Mengertikah kamu?

Ah Christa, mungkin ini terlalu berlebih. Jangan terlalu serius…Aku hanya ingin menulis dalam temaram senja Metropolitan, sembari membayangkanmu…

one sceptical day

March 20th, 2007 by xxxta

kita punya banyak pertanyaan dalam hidup ini. Tapi, ketika pertanyaan itu terjawab, apakah kepuasan yang diberikan tongkat estafet?

Seringnya tidak. Kita suka mencari-cari pertanyaan, bukan jawaban, karena keseruan ada di lapangan, bukan di garis finish atau start.

Karakter memang sering membingungkan, di satu sisi kita melakukan suatu hal yang begitu tabu, tapi melarang orang lain untuk melakukannya. Kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan, dorongan yang ada, dengan segala cara yang dihalalkan.

Haruskah, kita terus terusan mencari setan?

Lalu kalau bukan, apa yang harus kita cari? Seolah kita tak pernah berhenti untuk mengusahakan hal-hal yang jarang benar .. sampai kapan kita harus salah, untuk menjadi tidak terlalu salah lagi?

sampai kapan penyesalan harus terus datang, dan kita harus tersenyum dalam kemaksiatan buatan?

…seakan-akan.. tidak akan ada meteor yang nantinya menyerang bumi, kita melakukan segala sesuatu nya tanpa memikirkan perasaan yang lain. Kita berpura-pura aman, padahal tidak sama sekali. sampah perasaan.. harus dibuang kemana?

kenapa hidup ini membingungkan?

karena dibuat untuk tidak dijawab.

aku ingin bertemu jawaban, kemudian bunuh diri bersama misteri yang akhirnya kutemukan.

apa artinya hidup kalau nanti juga mati?

siapa tahu mati menyenangkan.

on a day where sceptic is the air that i breathe.

Kebenaran Telanjang

February 10th, 2007 by xxxta

Sampai kapan orang akan percaya terhadap kebenaran yang telanjang? Sampai kapan kita terus berpikir bahwa kebaikan itu selalu terbalut, dan bukan mulus dan terbuka.

Sampai kapan kita sadar, bahwa kemaksiatan timbul dari hiperbola kesucian, dan keseksian ada dalam pikiran?

Bentuk mini yang mengungkung kita terdiri dari tulang, kulit, dan rerambutan. Sebenarnya kita jauh di atas itu semua. Kita ini semua sebenarnya adalah nuansa, aura, dan segala hal yang berputar-putar di angkasa. Manusia bukan payudara atau buah zakar, bukan darah dan air mata, tapi jiwa, yang kadang-kadang terbang dari orbitnya.

Lalu kenapa kita masih mempermasalahkan bahwasannya kita perlu memakai kain tipis untuk menutupi aurat kita yang sebenarnya tidak ada, batasan-batasan fisik yang kita cipta, dan napsu-napsu hewani yang kita kuasai?

Jiwa, ada di atas semua itu. Jiwa, ada dalam koteka, ada dalam patung apsara yang gamblang, yang sebenar-benarnya tanpa maksud jahat dan cuma fungsi penunjang hidup. Mereka yang di atas otak kita sana sudah tahu kalau kita berlaku seperti topeng monyet, pakai-pakai jubah tapi pikiran joroknya tidak dipayungi. Karena itu alien tidak memakai baju. Karena mereka tahu, kita ini manusia-manusia yang sering terjebak dalam fatamorgana kotornya sendiri.

Sampai kapan sih, akhirnya kita paham bahwa kesucian adalah melihat ketelanjangan tanpa firasat. Menyentuh adalah bentuk keperluan fungsional, bukan eksekusi birahi? Sampai kapan akhirnya kita berani berkaca pada zaman tinggal di goa-goa dan mulai meresapi makna kebersamaan yang ditimbulkan oleh lepasnya pakaian dan tinggalnya jiwa?

Sampai kapan , kita akan sadar, sampai kapan paradigma itu akan bergeser. Bahwa kesucian tidak melekat pada apapun melainkan melayang? Akankah pada perjalanan hidup ini kita sadar akan kejernihan yang berwarna bening, bukan berwarna putih?

Mungkin sampai lumba-lumba kembali ke daratan lagi. Entah kapan.

Tolong, mengertilah, kalau semua yang ditutupi  itu bukan berarti bohong. Setiap kepala punya sistemnya. Jangan kau tuding tuduh lagi.

Seks , Perselingkuhan, dan Masturbasi

January 12th, 2007 by xxxta

Saya baru tahu akhir-akhir ini kalau orang boleh menuliskan pendapatnya tentang seks di blog, setelah membaca blog seorang teman yang jujur berjudul “Seks Lima Belas Menit” (http://www.taman-kecil.tk) Tapi disini kita tidak akan memperjelas langkah-langkah melakukan kegiatan seksual (kegiatan = aktivitas, seksual = berhubungan dengan kelamin) karena silahkan saja cari di situs porno. Disini lebih banyak membahas mengenai hubungan orang melakukan perselingkuhan dan kebutuhan seksual.

Sembilan puluh persen pria berkeluarga di Amerika pernah berselingkuh secara verbal yang mengarah sampai non-verbal. Dari tingkat paling ringan atau sekedar colek-colek cium babysitternya aja sampai yang paling berat seperti Bill Clinton dan Monica Lewinsky (yeah Bill, we know the truth). Statistik yang tidak mudah dipercayai. Kita boleh bersyukur karena saya belum menemukan data berapa persen pria di

Indonesia

yang berselingkuh terhadap istri mereka, dengan begitu kita tidak perlu tahu kenyataan pahit yang sebenarnya terjadi sekarang (atau, ada yang boleh memberi tahukan saya, kalau ada yang tahu?). Itu pun harus dipilih-pilih lagi, antara selingkuh dan selingkuh yang dilegalkan A.K.A poligami.

            Banyak orang yang menjadi apatis tentang cinta, karena toh bilang cinta tapi akhirnya selingkuh juga. Benarkah itu cinta? Ataukah hanya sekedar insting dasar (id) binatang yang ada di setiap manusia? Kebutuhan seks dan libido yang harus dipenuhi, ketika sedang “pasang”. Cukup menjijikan kalau kita bayangkan, tapi cukup mudah dimengerti kalau kita berani mengakui bahwa dalam malam-malam sebelum tidur orang sering melakukan fantasi perihal keinginan berbuat seks. Atau mungkin para pria mengalami yang disebut “mimpi basah”.

            Kebutuhan seks itu harus diakui memang ada, tapi semakin panjang proses institusi pembentukan karakter dan pendidikan moral yang diterima dan dinternalisasi dalam tubuh manusia, maka kebutuhan tersebut dapat dibendung. Dalam suatu artikel yang ditulis Ayu Utami, ia mengatakan bahwa kebutuhan pemenuhan libido tersebut bisa “dol” atas sebab-sebab tertentu, tapi yang terutama adalah ketika kita mabuk. Dengan kemampuan alkohol yang mampu mengacaukan otak dengan psikotropika, kebutuhan seks itu menjadi tidak terbendung dan dapat tersalurkan secara random. Bisa kepada siapa saja yang ada di sekitar kita. Selain itu, alkohol juga membuat seseorang menjadi lebih buas dibanding prilaku normalnya. Ia dapat mengatakan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, atau hal-hal yang pernah ia bayangkan dalam fantasi terliarnya.

            Perselingkuhan diawali juga dengan hilangnya akal sehat seseorang bersumber dari ketidakpuasan. Ketidakpuasan atas pasangan, ketidakpuasan atas dirinya sendiri. Ketidakpuasan pun menghasilkan zat yang mengacaukan sistem moral dalam otak kecil kita. Awalnya mungkin cuma main-main saja, tapi kepuasan yang menimbulkan penawar bagi ketidakpuasan itu pun menjadi-jadi dan akhirnya seseorang pun ketagihan. Hal ini bisa dibilang manusiawi, kalau memang kita punya asumsi kalau manusia itu hewani. Menurut saya sebagai seseorang yang bermoral, perselingkuhan itu tidak bisa ditolerir dan tidak manusiawi. Perselingkuhan hanya merupakan rasionalisasi dari keinginan seks mendalam yang diajukan dalam perbuatan. Rasa cinta dan suka tentu saja bisa timbul kepada pihak lain yang bukan pasangan kita, wajar. Tapi hal krusial disini adalah, apakah kita melakukan sesuatu untuk mengendalikan rasa cinta dan suka ke dalam perbuatan (baca :seks). Atau bisa juga dikatakan apakah bagi mereka seks merupakan mesin pembuat cinta (yang penting, make love?). Seks dulu baru cinta, atau cinta dulu sebelum seks? Coba tanyakan pada si tertuduh.

Memang benar kata orang, yang penting pengendalian diri. Tapi, mengertikah kita akan apa yang harus kita kendalikan? Atau kita akan terus menerus menciptakan kebohongan, kebohongan, sehingga terbiasa untuk mengendalikan kejujuran?

           There are a few good men. Well yes, I agree with that jargon, there are only a few of good men. Sisanya adalah mereka-mereka yang melakukan perselingkuhan hanya karena sedikit bisikan nakal, hembusan di tengkuk, atau melihat sesuatu yang seharusnya ditutup. Sisanya adalah idiotik yang cenderung membiarkan adrenalin mengatur otaknya. Membiarkan alasan middle age crisis melanda sistem tubuhnya, untuk mendapatkan pengampunan. Kalau memang hanya seks dan kepuasan yang dibutuhkan, kenapa sih mereka tidak melakukan masturbasi saja? Apakah belum cukup puas? Atau, apakah karena dilarang agama? Tapi, agama membenarkan poligami? Hm… persepsi yang salah akan menimbulkan kita menjadi binatang buas penghancur hati orang lain dan bukan orang yang berakhlak. Setelah dipikir-pikir, saya mengerti kenapa teman saya, si penulis blog yang sebut di awal tadi mempertanyakan : agama adalah filter dari candu seks, atau seks adalah penawar dari racun agama?

            Cukup nggak jelas juga ya tulisan saya yang ini. Saya juga tidak pernah menganggap masturbasi adalah tindakan manusiawi, karena Golden Retriever saya yang berusia 2 tahun berkelamin jantan itu melakukannya 7 kali sehari. Tapi, mungkin aja nggak sih, sebenarnya masturbasi itu bisa jadi substitusi seks kalau konsekuensi pemenuhan seks adalah perselingkuhan? Dengan hukum permintaan, secara teoritis bisa kita katakan, seandainya kebutuhan seks itu 80 , namun ”supply dalam negri” hanya sanggup memenuhi 30, kita sebenarnya tidak perlu impor 50. Masturbasi saja sebesar 50. Sama seperti usaha pemerintah mencoba mengganti bensin dengan bio-diesel. Perbanyak bio-diesel kurangi subsidi bensin. Perbanyak masturbasi kurangi perselingkuhan.

            Yang jelas buat saya, perselingkuhan dengan dalil cinta itu crap. Apalagi ketika kedua orang sudah saling memiliki cincin berukir nama masing-masing. Janji keabadian itu penting, jadi kalau belum yakin gak bisa puas selamanya dengan pasangan sih mendingan gak usah menikah. Kalau yang pacaran? Saya cuma bisa bilang dengan bijak (cuma bisa bilang karena saya sendiri sulit melakukannya), the best revenge is to live your live well. Yah, coba sajalah berprilaku seperti manusia yang baik, bukan yang kehewan-hewanan. Yang kaya gimana tuh? Kalau nggak tahu manusia yang baik kayak gimana.. cari tahu saja perilaku-perilaku hewan yang jelek itu gimana…

8 Januari 2007

17.00 WIB

PS : Okay I know Im a f**kin feminist.. but I dont f**k that much to justify that it is right.

Kebahagiaan Tidak Punya Solusi

January 4th, 2007 by xxxta

Kebahagiaan tidak punya corner solution… Kebahagiaan tidak punya solusi yang memojokkan dan membatasi ruang geraknya. Kebahagiaan itu adalah sebuah variabel stokastik, yang tidak dapat ditentukan, yang diambil dari bundel acak, yang penuh misteri, dalam satuan waktu yang infinite, tidak terbatas…misteri, sampai kau mati, dalam arti dikubur dan tidak bangun lagi. Bahkan saat koma pun kau bisa bahagia (karena koma bukan titik), bahkan saat mati suri pun kau mungkin tersenyum dalam pencarianmu menuju jasad.. Selama kau belum di alam lain, kau masih bisa bahagia.

Kebahagiaan itu adalah variabel komparatif tapi mutually exclusive. Dapat selalu kau bandingkan secara transitif, terkadang kau lebih bahagia dengan si cinta, si sayang, ataupun si doi, dibandingkan dengan si musuh, si pendiam, dan si kuper. Tapi kebahagiaan itu adalah titik-titik dalam hidup, ruang dan waktu yang tidak bisa dimodelkan. Tidak bisa dilihat hubungannya secara statistik bahwa kau tidak bahagia dengan si kuper, si pendiam, atau si musuh. Karena kebahagiaan tidak punya pojok, tidak punya sudut pandang, melainkan suatu lingkaran  yang mencakup semua segi kehidupan, seperti bumi yang bulat, dan mencakup triliun atom pembentuk kalsium.

Kebahagiaan tidak dapat kau batasi, atau kau buat estimasinya. Behavior is invisible. Dengan model Computable General Equilibrium (model ekonomi yang mengukur behavior atau kelakuan random) sekalipun. Tidak dapat kau bilang, ”aku senang, tapi tidak bahagia.” Tahu darimana kau kebahagiaan tidak ada dalam satu sudut pun senyum yang masih bisa kaupaksakan, walaupun dalam keadaan terjepit pun?

Kebahagiaan yang kecil, sama artinya dengan kebahagiaan yang besar. Kau tidak dapat mengatakan bahwa kebahagiaan adalah faktor endogen dari cinta, satu-satu penentunya adalah cinta. Tanpa cinta, tanpa pacarmu, tanpa ayahmu, ibumu, saudara-saudaramu, anjingmu, ikanmu, burungmu—kau tidak bahagia. Kau tidak bisa bilang kau tidak bahagia karena kau kehilangan sesuatu, karena kau tidak kehilangan apapun, dalam kebahagiaan yang tidak punya sudut untuk dicuil itu.

Kebahagiaan itu abadi ketika kau masih bisa memeluk dirimu sendiri dan mengatakan pada dirimu itu, ”kau harus tetap jatuh, untuk bisa terus bangun”. Kebahagiaan itu tidak akan sirna, sebelum dirimu benar-benar sirna, dan benar-benar hilang dari dunia, tanpa recehan kembali.

Setiap kebahagiaan itu berbeda. Ketika kau sudah merasa mendapatkan kebahagiaan yang paling tepat, saat itu lah kesalahanmu yang terbesar di dunia. Itu lah ketika kau menjadi gila dan buta, lalu mulai menginterpretasikan bahwa dirimu itu sudah jatuh cinta dan mulai tak sadarkan nyawa. Padahal, sebenarnya… ketika kau merasa bahwa kebahagiaan itu berasal dari sumber tunggal. Itulah kegilaan sebenarnya. Kau pun kehilangan harapan, masa depan, penggapaian, bintang, awan, tak ada lagi dalam dunia ini yang ingin kau raih kecuali zona kebahagiaan tertentu itu. Kandaslah semua tujuan hidup untuk selalu meloncat lebih tinggi.

Hal ini kompleks mungkin—sulit dijelaskan. Karena dirimu sendiri sulit dijelaskan. Karena sesungguhnya, memang dirimu sendiri itulah kebahagiaan itu. Kebahagiaan itu depresif, karena tak henti-hentinya menyodomi sel-sel otakmu. Hanya kesadaran dalam mendeteksi kebahagiaan itu saja yang perlu kau pahami. Kebahagiaan itu datang ketika kau memperhatikan orang lain. Lewat perhatian, kau mengeksploitasi satu ruang dalam kebahagiaan yang perlu melepaskan. Kebahagiaan itu datang ketika kau diperhatikan orang lain. Lewat perhatian, kau menerima ,dan terbukalah katup-katup dalam lingkaran kebahagiaan. Berlaku juga untuk semua benda asing lain.

Mereka membuka unsur-unsur yang sudah ada dalam dirimu,  dan melepaskan senyawa seduktif ke otakmu, dan kaupun bahagia. Benarkan, kebahagiaan itu rantai? Begitu terus, berputar-putar dan tak akan pernah habis.

Kau takkan pernah tahu kapan kebahagiaan akan musnah. Karena kebahagiaan adalah sebuah bentuk energi. Hukum alam mengatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Memang, kebahagiaan itu bukan siapapun yang ciptakan atau musnahkan. Kebahagiaan adalah wahyu yang diturunkan Tuhan ke setiap insan, sepaket dengan jiwa dan tubuhnya. Kita selalu diberkati kebahagiaan, karena itu, jangan konyol terhadap jiwa dan tubuhmu, karena percayalah, kita tidak akan tidak bahagia, selama kita masih bisa menyerap oksigen, dan melepas karbondioksida. Berbahagialah. Itu mutlak.

28 dec -06

18:05 PM