Difference Go Beyond, Emphaty Go Under
June 3rd, 2008 by xxxta
Setelah penelitian lebih lanjut yang terus dilakukan oleh
Prof. Christa Sabathaly, ternyata fungsi dari suatu hubungan adalah saling
mempelajari satu sama lain. Bukan masalah siapa yang bisa lebih menyenangkan
siapa, siapa yang mencintai siapa. Tapi, apa yang bisa kita ambil dari tiap
kejadian?
Memahami bahwa tiap orang dibuat unik adalah ilmu yang silit
dipraktekkan (yah silit, setingkat lebih susah dari sulit). Bahkan, ilmu
tercanggih berjudul “empati” mengajarkan kita untuk bisa membayangkan diri
berdiri di “atas” sepatu orang lain.
Lalu, apakah namanya ilmu yang sejatinya mengajarkan kita
untuk memakai sepatu berbagai bentuk dan ukuran, dengan bentuk dan ukuran kaki
kita yang fixed?
Kemarin itu saya
membeli sepatu abu-abu yang sangat seksi. Sayang, saya khilaf dan membeli
ukuran 35 (padahal ukuran saya di poin kaki paling mengkerut saja 36,5). Sampai
di rumah, ketika sepatu itu hendak saya kenakan pori-pori kaki saya langsung
kesakitan, ”SEMmmppiiiiiiit, ” jerit mereka. Alhasil, saya berhasil memakai
sepatu itu sekali ke gereja. Tapi, sumpah, gak lagi-lagi deh.
Hm.. jadi, adakah
ilmu yang akan membuat kita mampu memakai berbagai ukuran sepatu dan bentuk?
Yang walaupun sakit tetap bisa kita kenakan berulang-ulang??
Laiknya
sepatu-sepatu dalam cerita itu, ternyata manusia juga begitu.
Ketika kita sudah
jatuh cinta pada sebuah model sepatu, tetapi tidak ada ukuran kita. Apa yang
harus kita perbuat?
Apakha mungkin
kita mengorbankan buku-buku jari lecet, asal kita dapat memiliki sepatu
tersebut?
Atau kita
lepaskan saja cinta pada sepatu itu dan mencari sepatu lain? Siapa yang
sebenarnya menyesuaikan? Kakinya? Atau sepatunya?
Walaupun dalam
”feng shoes” dikatakan bahwa: jika ada sepatu cantik yang amat kau suka dan
warnanya cocok denganmu, jangan beli if it
doesnt have your size.
But I say, if you like
it, then, take it! Or should I say, if you like him, fight for him!
Dalam kasus antara sepatu atau kaki, yang musti menyesuaikan
diri, buat saya adalah yang mana yang bisa berubah? Ya, kaki nya lah!
Perubahan itu
diawali dengan saling mengerti dan menerima. Resep klasik sederhana. Jika kita
terus melirik ke masa lalu dan berkata
”kenapa sih dia berubah, lihat deh, dulu SMS-SMSnya seperti ini…”
Percayalah, kita
tidak akan menemukan pengertian pada masa lalu yang lebih baik. Pengertian itu
justru timbul jika kita ingat masa-masa yang lebih buruk, lebih sakit, sehingga
akhirnya kita temukan pangkal dari rasa penerimaan, yaitu: syukur.
Jika kita terus
menjadi seorang pembanding, boleh percaya atau tidak, tetapi relativitas itu
relatif! Setiap perbandingan punya kelemahan asumsi, tiap dua celah yang
berbeda tidak bisa dianggap ceteris
paribus. Jadi, coretlah dalam benak Anda bahwa jika seseorang tidak
melakukan repetisi pada reaksinya, hal itu karena keadaan yang dihadapi
sekarang adalah keadaan yang jauh berbeda.
Seperti kata King Aslan di “Narnia :Prince Caspia”, ”Two
incidents won’t happen the same way twice”
Di suatu restoran, ketika sedang memandangi menu, kita juga
pasti akan berpikir. Hari ini, apa yang akan saya makan? Sesuatu yang sudah
biasa saya makan setiap hari, sesuatu yang baru sama sekali, atau sesuatu yang
merupakan favorit saya (ini biasanya mahal).
Memilih orang-orang yang menjadi pasangan hidup kita, pun
terkadang seperti itu.
Ada
orang
yang lebih nyaman dengan jenis makanan yang sudah BIASA dia cerna.
Ada
yang memilih sesuatu yang benar-benar baru, dan ada yang berani membayar lebih
mahal untuk sesuatu yang memang amat disukainya. Pilihan-pilihan tersebut tidak
ada yang salah. Hanya sekali lagi kita harus ingat bahwa apa yang ada dalam
menu adalah suatu persepsi, belum tentu eksekusi.
Buat orang-orang yang memilih sesuatu yang jadi kebiasaaan
mereka, misalnya. Apa ia yakin makanan tersebut juga akan ‘disajikan’ seperti
biasa? Oleh koki yang sama, metode pemasakan seperti standar tertera? Apakah
rasanya akan benar-benar sama seperti rasa yang ia bayangkan?
Seseorang yang memilih hal-hal baru dan hal-hal yang paling
disukainya, biasanya punya kesiapan untuk membayar lebih. Bayaran ini dalam
bentuk pengalaman baru yang harus ditelah baik itu baik maupun buruk, ataupun
bayaran mahal dalam arti usaha yang ekstra sebelum mendapatkan hal tersebut.
Memilih untuk kembali dengan mantan, yang sudah Anda kenal
karakter luar dalamnya. Atau memilih orang baru, si asing sempurna? Memilih
seseorang yang Anda puja, tapi what the
F… dia sangat hard to get!
Jatu kemanapun pilihan Anda, jangan terlalu yakin dulu yang
satu lebih baik daripada yang lain. Memilih, menjatuhkan pilihan pada salah
satu dan mengabaikan dua substitusi lainnya adalah kata lain dari konsekuensi. Ketika hal tersebut datang,
kita harus selalu siap untuk :berusaha!
Mengerahkan tenaga pada hal-hal tidak terduga, atau hal-hal
mudah diduga yang ternyata meleset. Bukan pada apa yang kita pilih, bukan pada apa yang TIDAK kita pilih. Tapi,
bagaimana kita belajar mengambil dan menjalani keputusan.
Setiap pilihan
ada jalannya masing-masing dan yang penting adalah kita belajar untuk melihat
ke depan, bukan ke belakang. Mencintai tiap langkah pada jalan yang kita ambil
adalah kunci. Pintunya adalah kebahagiaan. Buka pintu dengan kunci.
Silit mungkin,
melangkah dengan sepatu kekecilan, atau sepatu kebesaran. Tapi, kala kita sudah
mencintai sepatu itu, kita mau mencoba mengerti, membuka hati, maka rasa sakit
itu pun jadi normal.
Lelah mungkin
menjalani langkah dengan rasa sakit. Tapi jika kita terus berjalan, lelah itu
hilang dan berganti kenyamanan. Daripada gak jadi sepatu? Bukannya lebih
berbahaya?
Lebih baik lagi,
jika kita sudah benar-benar mengerti bentuk kaki dan ukuran sepatu kita, lain
kali, pilihan kita akan jatuh kebetulan pada sepatu yang tepat. Ukuranya pas,
bentuk yang cantik. Tanpa pikir panjang, secara otomatis kita tahu, apa yang
terbaik untuk kita dan akhirnya semua jadi effortless.
Lihat, semua ini sebenarnya tentang belajar kan?
Belajar menerima
perbedaan, karena perbedaan itu eksis…
..dan memiliki
empati hanyalah sebuah simplifikasi.
While difference go
beyond that.
